Jikapun masih ada doa yang layak untuk kita, maka berdoa saja. Temui aku, pada setiap doa malammu. Sebab kita tak pernah tahu, pada takdir mana lagi cinta akan bertemu.
Arsip Blog
Pengikut
Entri Populer
-
KEBUN MAWAR DAN KEINDAHANNYA Samarang, Garut. Jawa Barat Oleh : Royhanatul Fauziah Hai.. Apa kabar..?? udah lama nih ga nge’blo...
-
sepi bagaikan api dan kau adalah bara yang menambah gersang kesepianku yang malang Agustus 2013
-
angin yang berhembus menambah semarak lambai mawar-mawar di taman dan biarlah duri itu tetap pada tangkainya, sayang karena aku kelopak m...
-
PERPISAHAN Oleh : Royhanatul Fauziah Setiap kali aku melewati dermaga itu, aku selalu teringat pada wajahmu yang selalu berpeluh,...
-
KARMA Oleh : Royhanatul Fauziah Jujur saja, malam ini aku seperti ditikam kenangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat waja...
-
PERCAKAPAN MALAM Kita saling menunggu, diantara dinginnya malam Di jarak yang hanya dipisahkan deretan rumah dan gedung-gedung kota ...
-
JEJAK LUKA Oleh : Royhanatul Fauziah Di suatu sore yang kemuning, cahaya matahari senja merambat masuk lewat kaca jendela yang se...
Writer
Label
Jumlah Penayangan Blog CATATAN ANGIN
Minggu, 25 Oktober 2015
Tentang Kita
Oleh : Royhanatul Fauziah
Jika kita tak bisa menjadi ombak untuk mengerti bahasa laut, atau setegar karang untuk menahan gelombang, maka berlayar saja, sebab kita hanya perahu, yang tak tahu, kapan karam menjemput kita.
Garut, 24.10.15
Kamis, 22 Oktober 2015
Cinta
Bagiku, cinta tak pernah pergi, tak pernah menyakiti.
Ketika sesuatu memaksanya untuk menyakiti, ia menahannya. Seperti halnya rumah, kau tak akan membiarkan tamu asing masuk, dan mengobrak abrik seluruh isi rumah, semisal kenangan kita.
Atau setidaknya, ketika sesuatu memaksanya untuk pergi, ia pergi dengan sebaik-baik cara.
Sabtu, 17 Oktober 2015
Pesan yang sama
Apa artinya sebuah ikatan atau tanpa ikatan, jika pada akhirnya memisahkan?
Lalu, apa yang baik dari sebuah perpisahan yang tanpa kabar?
Bukankah lebih baik jika kita tidak pernah terikat saja?
Mungkin kamu tidak punya alasan kenapa kamu mencintai aku, sebab katamu, cinta tidak butuh alasan. Tapi mungkin, kamu punya banyak alasan kenapa kamu (selalu) meninggalkan aku.
Jangan pernah kembali. Sebab ketika kamu kembali, barangkali aku sudah menjadi orang lain, yang tak lagi kamu kenal. Begitu juga kamu, yang akan menjadi orang lain ku.
"Tapi kita masih sepasang", katamu.
Tidak, kita tidak lagi menjadi sepasang.
Kau melangkah sejuta jarak dan jejak. Meninggalkan aku dan bertualang sendiri, tanpa kabar, atau sepenggal sajak.
Bukan hanya kemarin, tapi dulu, dan saat itu, kau meninggalkanku berkali-kali, berkali-kali.
Sedang aku disini, menunggumu dengan seribu tanda tanya, menyisir hari dan sunyi, yang kusut, yang kalut.
Bukankah kau tidak pernah bertanya, bagaimana kabar kenangan, yang selalu kujaga baik-baik, dalam seribu album, dalam sepasi ingatan yang luka. Atau bertanya, bagaimana kabar rindu, kabar perempuan yang diam-diam menangis menjelang tidurnya. Atau kabar seorang ibu dan ayah yang murung, melihat anak perempuannya ditinggalkan nasib.
Tidak. Kau tidak pernah bertanya. Sebab kau selalu merasa bahwa kenangan itu tidak ada, bahwa rindu itu hanya sekumpulan luka.
Aku tidak sedang memintamu untuk kembali padaku, atau pada kenangan.
Aku hanya memintamu untuk memilih, melepas tali, atau mempererat ikatannya? Seperti sebuah kepastian.
Jika kau ingin melepaskan, maka lepaskan. Jangan jerat aku dengan ikatan itu.
Jika kau ingin mempererat, maka mendekatlah, karena aku sudah kehabisan cara, simpul mana lagi yang mampu memperkuat tali kita.
Ikatan itu, bukan hanya tentang janji. Bukan hanya tentang kita. Apalagi sekedar kata.
Ikatan adalah kenyataan, untukku, saat kau dan aku merasa segalanya akan dikekalkan.
Namun ketika kau memilih pergi, aku sadar, tidak pernah ada yang kekal, segalanya akan tiada, segalanya akan kembali sepi, begitu juga cinta kita.
Aku tidak ingin pergi, tapi aku juga tidak ingin bertahan, sebab yang tersisa dari hidupku hanya perasaan kehilangan. Terlebih, kau selalu berkata, bahwa kau tak pernah merasa meninggalkan siapapun dan apapun, tapi nyatanya, kau tidak pernah ada, dalam kenyataan, atau bahkan dalam bayang-bayang. Tidak, kamu tidak pernah ada.
Rabu, 14 Oktober 2015
Pesan Untukmu
Lalu, apa yang baik dari sebuah perpisahan yang tanpa kabar?
Bukankah lebih baik jika kita tidak pernah terikat saja?
Jadi tolong, beri aku sebuah kabar, kabar baik bahwa kita benar-benar sudah selesai.
Mungkin kita tidak lagi punya alasan kenapa harus saling mencintai. Tapi kamu punya banyak alasan kenapa kamu (selalu) meninggalkan aku.
Maka, katakan alasan itu kepada keluargamu dan keluargaku, bahwa aku memang pantas untuk ditinggalkan.
Sebab aku tidak ingin hidup dengan bayang-bayang.
Dan aku nyatakan padamu, aku tidak akan pernah kembali, pada seseorang yang pernah meninggalkanku berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali.
Senin, 12 Oktober 2015
Membacamu
Aku membaca hujan
Membaca puisi
Membaca hari dan sunyi
Membacamu,
Membaca semua milikmu, dan
Segala yang bukan milikku...
Tamu Asing
Biarkan aku sebentar saja.
Sebab aku hanya tamu asing, yang ingin menyaksikan ombak dalam ingatan.
Kemudian aku akan kembali pada bilangan kesepian, seperti katamu. Selepas kepergian, setelah perpisahan itu.
Kini aku hanya tamu asing.
Kau hanya tamu asing.
Maka, kita tidak perlu merasa kehilangan.
Seperti pasir kepada ombak, yang selalu membiarkan ombak pergi, sejauh yang ia mau.
Kepergian
Dalam Film STAND BY ME "DORAEMON"
Oleh : Royhanatul Fauziah
Kamu lihat, ketika Doraemon akan pergi, dan Nobita memaksa Doraemon untuk tetap tinggal tapi tidak bisa. Ia bersedih dan menangis sejadi-jadinya. Mungkin seperti itulah aku, ketika kamu tinggalkan. Tetapi Nobita beruntung karena Doraemon tidak jadi pergi. Sedangkan aku, aku masih sebatas penyendiri, menanti sampai aku lupa, bahwa kamu sudah tidak disini dan tidak akan pernah kembali lagi.
Minggu, 11 Oktober 2015
Waktu Senja
Aku menyukai langit senja. Ia seperti lembar penutup sebuah catatan bisu.
Mungkin warnanya tidak sebiru langitmu yang menenangkan.
Tetapi lihatlah warna senja, kau akan menemukan waktu yang berlari,
Dan kita seumpama dua titik yang menyaksikan perpindahan itu.
Waktu dimana petang beranjak menjadi malam.
Dan malam bukan lagi cerita kelam,
meski terkadang menyisakan sebuah perpisahan.
Tapi kau tahu, di bawah langit senja itu,
Aku menemukan cerita untuk menutup hari, seperti sebuah percakapan,
ketika semua menjadi sunyi,
ketika semua telah beranjak pergi.
Untuk Mencintaimu
Untuk mencintaimu, aku yakin, tidak
ada perempuan yang setabah aku.
