Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2016

Mencuri Pandang

Diposting oleh Catatan Angin di 06.19 0 komentar

Suatu waktu di sebuah pertemuan. Lelaki itu sedang asik membaca bukunya, sambil sesekali menanggapi percakapan teman-teman di sekelilingnya.

Aku berada di sudut tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk.

Ia asik dengan bukunya. Aku asik mengobrol dengan teman-teman. Sambil bercanda tawa, sudut mataku tak henti mencuri pandang ke arahnya.

Bertahun saling menyapa, bertemu. Aku dan lelaki itu tak pernah berbicara lebih dalam, percakapan kita hanya sebatas diskusi kecil dan hiperbola, namun aku merasa telah mengenalnya jauh sebelum ini.

Aku masih asik dengan teman-teman. Iapun masih menggenggam bukunya.
Dan ketika teman-temanku behenti berbicara, aku duduk sendiri, lalu sepuasnya aku bisa memandanginya diam-diam, dari tempat yang barangkali tak seorangpun tahu.

Lelaki itu begitu penyendiri dan tenang, terlebih ketika sedang membaca buku. Aku suka melihat ketenangannya juga menatap matanya yang sibuk beradu dengan kata.

Duh, aku ketahuan.

Tiba-tiba matanya menatapku dengan pasti.

Kualihkan pandangan kemana saja.

Berharap ia tidak mendapatiku yang tengah mencuri pandang. Berharap ia sudah membaca bukunya kembali.

Beberapa detik, kulihat ke arahnya lagi. Namun, ia masih memandangku yang kini salah tingkah. Aku jadi malu.

Aku mengalihkan pandangan lebih jauh lagi, pura-pura membaca buku yang kebetulan ada di dalam tas, atau iseng memainkan kunci di layar ponsel.

Saat itu aku tahu, ia masih menatapku, barangkali dengan tatapan heran. Kemudian, aku kembali melihatnya, memastikan dugaanku.

Benar saja, ia masih menatapku. Sekilas kulihat ia tersenyum tipis melihat tingkahku.

Lalu mata kita saling bertemu, saling menatap entah berapa saat lamanya.

Aku tersenyum, dan tersipu malu.

Ia tersenyum kembali, kali ini bukan senyum karena melihat tingkahku yang malu-malu. Ia tersenyum, seolah ia sudah tahu semuanya, bahwa detik itu, aku telah mencintainya.

Minggu, 06 Juli 2014

KESEDIHAN RANTING

Diposting oleh Catatan Angin di 23.05 0 komentar
KESEDIHAN RANTING
Oleh : Royhanatul Fauziah 


Daun itu telah lama gugur meninggalkan ranting yang sepi. Ranting itu tak pernah bisa bersembunyi dari waktu yang telah menyayat hidupnya kini.

Ada yang tersisa, ialah kehampaan pada sebatang rindu.

Tetapi kemana ranting itu harus berjalan? Menggenapkan kerinduan yang selama ini ia biarkan kering dalam hati.

Bukankah ia hanya seoonggok kayu yang hanya bergantung pada batang pohon yang mati? Yang membuat ia tak mampu berjalan ke depan, atau ke belakang. Ia hanya bisa berdiam di satu tempat, tanpa tahu bagaimana cara untuk pergi.

Sempat ia berpasrah pada pada hujan untuk mematahkan tubuhnya dari kurungan waktu. Tetapi untuk apa? Bukankah sebenarnya ia telah patah meski tak telihat?

Ah, seandainya ia bisa mengembalikan waktu.

Dan kini ia hanya bisa bertanya pada akar, pada angin yang datang dan pergi sesuka hati, pada kupu-kupu yang hinggap silih berganti.

Bukankah semua telah digariskan? Awan-awan menerka jawab melalui seberkas gerimis.

Kemudian dingin menjadi hening, seakan ia membenarkan jawab. Ia tahu maksud gerimis, bahwa setiap kerinduan tak harus menjadi candu, bahwa cinta tak mesti jadi belenggu diri.

Tetapi ranting itu tak memerlukan jawaban untuk seribu tanya dalam hati.

Ia hanya ingin menikmati kesedihannya sendiri, tentang daun yang gugur dan tak bisa kembali itu.

Minggu, 29 Juni 2014

SEPUCUK CERITA TENTANG KEPULANGAN

Diposting oleh Catatan Angin di 04.00 2 komentar
SEPUCUK CERITA TENTANG KEPULANGAN
Oleh : Royhanatul Fauziah

Hatiku adalah rumah, tempat dimana kau akan selalu pulang.
Meskipun kau pernah meninggalkan rumahku untuk pergi ke rumah yang lain, yang katanya tak lebih indah dari rumahku.

Apakah kau tidak bahagia disana? Apakah kau kesepian?

Aku mengerti kesepianmu. Kesepian yang kau rasakan saat berada di rumah itu. Kamu berdua, tetapi kamu merasa sepi dengannya. Mungkin kau menyesal.

Kudengar kau selalu mengingatku disana, benarkah? Akupun selalu mengingatmu disini. Di rumah ini. Meskipun sakit dan sendirian.

Tetapi aku selalu ingat, cinta tidak akan pernah membuat kita merasa sendirian dan ditinggalkan.

Mungkin selain cinta, kenangan adalah satu-satunya hal yang tidak pernah membuat kita bisa saling melupakan, atau meninggalkan.

Seandainya aku bisa membaca hatimu, mungkin aku tak perlu menangis saat kau mencoba untuk mencintai wanita lain. Nyatanya, hari ini kau kembali untuk mencintaiku lagi.

Seandainya aku bisa meramal masa depan, aku tak perlu takut dan bersedih karena kepergianmu waktu itu. Nyatanya, hari ini kau ada disini, di sampingku.

Ah, cinta. Siapa yang mampu menolak kehadirannya, bahkan ketika hati telah dilukai?

Barangkali, karena kita telah sepakat, untuk tidak pernah merasa kehilangan sebab cinta akan selalu membawa kita pulang dan kembali ke rumah kita yang tak pernah mengenal kata perpisahan.

Seorang penyair pernah berkata, siapa yang pergi terlalu jauh, maka ia akan kesulitan untuk kembali. *EM

Sayang, apakah kau pergi terlalu jauh, hingga aku merasa kesulitan untuk menerimamu kembali?

Lihat hatiku, berdebu dan kesepian. Terluka dan sendiri.

Maafkan aku, jika aku masih mengingat luka.

Tetapi yakinlah, rumahku masih seperti dulu. Rumah yang dihiasi bunga-bunga, rumah yang dipenuhi sajak, rumah yang dialiri do’a, juga kenangan. Kita hanya perlu menyeka debu, lalu menutup luka itu bersama-sama.

Cinta yang membuatmu pergi, cinta pulalah yang membuatmu kembali.

Minggu, 01 Juni 2014

CERPEN - KARMA

Diposting oleh Catatan Angin di 01.23 0 komentar


KARMA
Oleh : Royhanatul Fauziah

Jujur saja, malam ini aku seperti ditikam kenangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat wajahmu, bersemayam di otakku. Begitu anggun dengan balutan busana berwarna biru tua, seperti warna langit pada bulan purnama. Bulan purnama yang selalu mengingatkanku pada wajah-wajah masa lalu yang jauh.

Bayanganmu seperti berkelebat, tanganmu seolah melambai ke arahku, memintaku untuk mendekatimu. Tetapi tak mampu kuraih. Kau dimana? Aku tak pernah tahu. Kuingat semua kenangan kita dulu, seringkali kau megajakku kesana kemari, seakan semua tempat sudah kita kunjungi. Aku jadi teringat dulu kita pernah mengunjungi kebun binatang, dan kau ingin berfoto di dekat kandang monyet, sambil meledekmu mirip monyet tersebut, kita tertaawa bersama-sama. Haha, tetapi siapa yang mampu mengembalikan kenangan?

Langit sudah mengatupkan cahaya, gelap diluar, tetapi tidak disini, di kamar ini. Kulihat langit-langit atap kamar, tak ada apapun, bahkan cicak yang biasanya lewatpun tak ada.. Hanya ada secercah cahaya neon yang remang, lama tak kuganti.
Angin menderu diluar jendela, seperti mengintip dari balik gorden. Hy, apakah kau datang bersama angin malam?

Aku kesepian.

Jam sudah menunjukan pukul dua pagi, atau malam? Entahlah, Kusebut ini dini hari. Bagiku  antara malam dan pagi tak ada bedanya, sama-sama menyimpan kebisuan yang pekat, yang aku tahu, antara keduanya hanya dipisahkan oleh lenguh adzan subuh.
Aku mencoba untuk tertidur. Kurapatkan selimut kemudian memejamkan mata, tetapi percuma. Dalam gelap pejaman mata, aku seperti melihat kamu sedang tersenyum entah dimana, aku tak peduli. Aku hanya ingin menghentikan ingatan tentang kamu malam ini. Kucoba memejamkan mata kembali, terpejam sepejam-pejamnya, tetapi sia-sia. Wajahmu semakin mendekat ke arahku. Aku seperti sedang jatuh cinta saja malam ini, jatuh cinta pada kenangan.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Kunyalakan komputer di meja kerjaku. Aku ingin menulis sesuatu agar lamunan ini tidak sia-sia. Aku ingin menuliskan kenangan. Menulis tentangmu. Microsoftword sudah tertancap dilayarku, tetapi apa yang hendak aku tulis? Kata-kata seperti berebut berhamburan keluar dari otakku. Semua kata seolah meninggalkanku, semuanya kosong, dan hanya tertinggal satu kata; namamu.
Aku kembali melamun.
“Ngga  tidur, Pah? Udah jam 3 loh..”
Suara itu membangunkanku dari lamunan panjang. Ya, itu suara istriku.
“Eh, ngga.. emm, belum..”
Istriku lalu menggeser tubuhnya sedikit ke samping ranjang, lalu memberi isyarat untukku agar aku tidur di sampingnya. Kubiarkan komputer itu tetap menyala, akupun berbaring di sampingnya, kemudian ia memelukku. Pelukan ini. Ya, pelukan ini. Aku suka pelukannya. Hangat dan membuatku merasa nyaman.

Pelukannya masih sama dengan pelukan saat aku dan istriku berkencan dulu, di sebuah danau yang dikelilingi tanaman hijau. Ikan-ikan berenang, sesekali mereka meloncat ke udara lalu tenggelam lagi, menimbulkan suara yang berkecipak riak, teratai menggelombang. Aku mengenalnya pertama kali di sebuah pesta pernikahan seorang teman, kulihat ia seperti perempuan yang berusia belasan tahun, padahal ia sudah 20 tahun, empat tahun lebih muda daripada aku. Tubuhnya mungil, dia istri yang tidak cantik, tetapi wajahnya manis dan menarik. Aku suka sekali mencubit pipinya saat ia tersenyum. Dan senyumnya yang membuat aku jatuh cinta.

Tetapi malam ini. Ya, malam ini dan bayangan itu, masih mengganggu pikiranku. Aku merasa berdosa dalam pelukan istriku, aku malah mengingat wanita lain, dialah mantan kekasihku. Ah memang, tak ada yang mampu menahan ingatan tentang masalalu  jika ia datang bertandang ke otak. Semua seakan terekam begitu saja. Dan tak mampu kuhentikan.
Udara mengembun di dedaunan, pagi terasa sunyi, cahaya matahari menyelinap lewat kaca jendela.

Istriku sudah bersiap-siap untuk berangkat mengajar. Ia seorang guru SD. Belum lama ia mengajar disana, baru tiga bulan yang lalu. Ia tak terlalu sibuk. Hanya mengajar tiga hari saja. Senin, Rabu, dan Sabtu. Menurutku, sifatnya yang tidak ceria dan cenderung pendiam tidak cocok sebagai seorang guru SD, tetapi karakternya yang lembut rasanya berada di tengah anak-anak memang cocok untuknya. Tapi entahlah, aku tidak pernah tahu bagaimana dia saat bersama anak-anak. Aku tak pernah melihatnya mengajar, atau menengoknya ke sekolah.
“Aku berangkat ya!”  Istriku pamit, sambil mencium tanganku.

Ah, saat seperti ini yang membuat aku merasa dicintai.
Rumah yang sepi dan memang selalu sepi. Semua cahaya lampu telah padam, hanya ada cahaya matahari kekuningan dan lampu yang menyala dari layar komputer yang semalam tak kumatikan. Aku ngantuk sekali, semalam aku sengaja tidak tidur, aku takut kalau aku tidur tiba-tiba aku mengigau nama mantan kekasihku dulu. Ya, mengingat seseorang sebelum tidur katanya dapat membuat seseorang itu masuk ke mimpi kita, atau bahkan membuat kita menyebut namanya dalam tidur.

Tiba-tiba suara handphone berdering, membuat aku terperanjat karena hendak terlelap.
Sebuah pesan singkat.
“Hai, apa kabar? Lama tak bertemu, masih ingat aku? Aku Arini.”
Aku terdiam, heran dan tak percaya. Entah ini sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan aku tidak tahu.
Hah, Arini? Nama itu, nama yang semalaman tadi mengganggu pikiranku. Dalam ketidakpercayaanku, aku membalas pesannya.

>>> 

Dan Arini mendatangi rumahku. Aku menikmati pertemuan ini. Aku tidak begitu khawatir akan ketahuan istriku, karena aku tahu jadwalnya pulang mengajar. Ia selalu pulang pada jam yang sama, pukul dua belas siang.
“Kau masih menulis?” Arini memulai percakapan.
“Ya. Aku masih bercita-cita menjadi seorang penulis”
Memang itulah pekerjaanku, aku menghidupi istriku dari menulis puisi, cerpen atau essai yang aku kirim ke media.

Aku mengobrol banyak dengan Arini. Rasanya aku seperti kembali pada kenangaku dulu bersamanya. Ia tak banyak berubah, wajahnya biasa saja tapi terlihat lebih dewasa dengan kacamata yang dikenakannya.
Aku menceritakan kejadian semalam kepada arini, tentang ingatan masa lalu yang tiba-tiba muncul.
“Katanya, jika kita mengingat seseorang, berarti seseorang itu sedang mengingat kita juga” . Arini berbicara selayaknya orang yang sedang merindukan seseorang.
“Apa itu berarti semalam kau sedang mengingatku juga, Arini?”
“Mungkin.” Arini menjawab singkat.
“Lalu apa yang membuatmu mencariku lagi, setelah perpisahan kita beberapa tahun silam?”
“Kenangan.” Jawabnya singkat lagi.

Ah, masa lalu rupanya dapat mengantarkan kita pada kenangan, dan betapa kenangan itulah yang membuatku mengkhianati istriku.

Rumah semakin sepi, tak ada suara tv, suara riuh para tetangga atau percakapan lagi. Pertemuan kami berlanjut di tempat tidur, entah siapa yang memulai aku tidak peduli.
Kenangan. Ya, kenangan. Siapa yang mampu menolak kenangan? Ketika ia datang, terbayanglah semua hal indah yang pernah dilalui. Membuat aku melupakan diriku sendiri bahwa aku sudah memiliki istri.
“Sudah pukul sepuluh, kau harus pulang sebelum istriku pulang. Istriku akan pulang pukul duabelas.”
Arini langsung beringsutan, rambutnya yang acak-acakan ia rapikan. Cepat-cepat aku membereskan tempat tidur yang acak-acakan. Menyemprotkan pewangi agar tidak tercium bau keringat atau wangi tubuh arini. Pertemuan ini terasa begitu singkat. Arini pulang. Dengan rindu yang masih tergenggam.

Tepat pukul dua belas siang, istriku pulang membawa sekantong makanan. Ia memang selalu pulang dengan membawa oleh-oleh, meski itu hanya makanan ringan dan murah. Tetapi aku suka. Aku suka kesederhanaan.
Aku menatap mata istriku. Matanya seperti tidak menyimpan kecurigaan sedikitpun. Kulihat ia tersenyum manis ke arahku, senyum paling manis diantara wanita manapun di dunia ini, membuat hatiku tenang.

Istriku memang lebih cantik dari Arini, tapi entah alasan apa aku mengkhianatinya. Mungkin karena sebuah kenangan? Entahlah, aku tidak tahu. Apakah harus ada alasan untuk sebuah perselingkuhan?

Ini malam terasa berbeda. Ada wangi parfum yang membekas dalam ingatan. Wangi aroma tubuh Arini.

Bulan demi bulan telah berganti. Setan selalu memberi kesempatan untukku berselingkuh dengan Arini. Anehnya, tuhan juga masih melindungi perselingkuhan ini dari mata istriku. Setelah pesan singkat itu, pertemuanku dengan Arini terjadi rutin. Tentu saja aku dan arini bertemu hanya pada saat jadwal mengajar istriku saja. Arini yang selalu medatangi rumahku. Kadang aku yang memintanya untuk datang, lebih sering keinginannya sendiri. Pertemuan itu hanya terjadi di rumahku saja. Aku tak berani mengajak arini berkencan diluar. Selain takut ketahuan, aku juga tak memiliki kendaraan untuk mengajaknya kemanapun. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa aku tak pernah mengantar istriku berangkat mengajar atau menjemputnya atau kemanapun.
Kau harus pulang sebelum istriku pulang.” Seperti biasanya, itulah kalimat yang rutin aku ucapkan.

Setelah perselingkuhan itu, setiap malam aku seperti ingin menulis puisi, kutulis sajak-sajak kenangan dan kukirim ke Koran, majalah, dll. Rupanya media memuat puisiku. Istriku tak pernah tahu bahwa uang yang menghidupinya adalah hasil puisiku yang terinspirasi dari wanita lain. Aku tak pernah terbuka tentang masalah puisi.
Malam ini sunyi sekali. Sunyi yang tidak biasa aku rasa. Akhir-akhir ini aku jarang melihat senyum istriku. Apakah istriku mulai mencium kebohonganku? Segera kutepis ketakutan itu, mungkin ini perasaanku saja.

Istriku sedang menyiapkan sesuatu untuk besok, kulihat ia sibuk dengan sebundel kertas. Barangkali itu hasil ulangan murid-muridnya. Dulu, istriku adalah seorang penulis juga. Ia menulis puisi juga cerpen. Tetapi entah mengapa sejak ia diam-diam membaca puisiku di sebuah file computer, ia tak pernah menulis lagi. Bahkan istriku seperti membenci puisi. Dan tak pernah mau untuk membaca tulisan-tulisanku lagi.

“Mulai besok aku harus mengajar setiap hari di sekolah. Kepala sekolah memberiku tanggung jawab untuk menjadi wali kelas. Aku hanya memiliki libur hari minggu saja.” Tiba-tiba istriku membuka pembicaraan.
Benarkah? Ucapannya membuatku sedikit merasa tersindir, sekaligus senang. Ini berarti pertemuanku dengan Arini akan lebih sering lagi dari sebelumnya.
“Tapi kau akan pulang jam berapa?” Aku tak tahu, apakah pertanyaanku ini membuatnya curiga atau tidak.
“Mungkin masih pukul dua belas, paling telat pukul satu. Memangnya kenapa?” Ia menjawab dengan nada datar, tetapi membuatku gugup.
“Ah, tidak. Aku hanya ga mau melihatmu terlalu sibuk dan kecapaian. Nanti kamu sakit.” Aih, aku merasa ini ucapanku yang paling bohong sedunia.
Tak ada respon dari istriku, hanya sesungging senyum.

Malam berlalu begitu saja. Istriku tertidur pulas. Aku masih terjaga. Kuisi malam yang sunyi ini dengan menulis puisi. Dan membaca puisi-puisi yang kutulis waktu aku masih bersama arini dulu, dalam hati tentunya. Ah, betapa sebait puisi saja dapat mengatarkan kita pada siapa saja dan kemana saja yang kita inginkan, seperti kenangan atau masa lalu misalnya.

>>> 

Entah ini pertemuanku dengan arini yang ke berapa, aku tak tahu. Yang pasti pertemuanku dengan arini hampir terjadi setiap hari, kecuali hari minggu tentunya. Ya, seperti yang pernah istriku katakan sebelumnya, hari minggu adalah hari liburnya.
Seperti biasa aku menyuruh arini pulang sebelum pukul dua belas siang. Arini pulang dengan tergesa.
Tetapi hari ini istriku pulang telat. Pukul tiga sore ia baru sampai di rumah. Tahu bakal seperti ini, aku akan meminta arini untuk tinggal lebih lama.
Dan kulihat istriku membawa sekantong makanan seperti biasanya.
“Kenapa telat?”  Tanyaku singkat.
“Aku pergi dulu ke toko kue”
“Kenapa semalam gak bilang? Kamu ga bohong kan? Kamu ga menyembunyikan apapun dari aku kan?”
Ia hanya diam tak menjawab dan menatap tajam mataku.
Dan mata itu, mata itu seperti sedang menuduhku bahwa akulah yang sedang menyembunyikan sesuatu. Kemudian ia membuka isi kantongnya yang belakangan aku tahu isinya adalah kue tart.
“Hari ini bukan ulang tahunku kan?”
“Memang bukan, besok kan anniversary pernikahan kita, aku ingin merayakannya malam nanti bersama kamu, Pah”

Hatiku tiba-tiba bergetar mendengar ucapannya. Aku merasa bahagia sekaligus berdosa. Betapa jahat aku sebagai seorang suami yang tega mengkhianati seorang istri yang begitu manis seperti dia. Yang begitu baik, mau membeli sepotong kue tart meski hanya kue kecil dan sederhana. Aku menyesal telah membohonginya selama ini hanya demi sebuah kenangan yang melintas.

Kupeluk istriku dalam diam. Istriku membalas pelukanku. Dalam pelukannya, aku semakin merasa sangat mencintainya.

Malampun tiba. Istriku sedang menyiapkan hidangan di meja makanan. Aku duduk di kamar, menulis puisi untuk istriku. Bukan menulis di layar komputer, tetapi di selembar kertas. Entah kenapa air mata menetes begitu saja, kata-kata mengalir deras untuk istriku tercinta. Aku tahu dia tak ingin membaca puisi yang kutulis, tapi biar saja, karena aku yang akan membacakannya langsung.

Di meja makan, tak ada percakapan. Hanya ada doa yang kupanjatkan diam-diam dalam hati. Aku memulainya dengan membaca puisiku untuknya.
Istriku tersenyum. Aku tahu senyumnya. Menandakan bahwa ia suka puisiku, meskipun ia tak mengucapkannya.
Malam yang senyap, dengan balutan dingin udara membuatku rindu pelukan nyaman istriku.
Maaf ya, Pah, anniversarrynya sederhana kaya gini, ga ada yg spesial”. Ia mengucapkannya sembari tersenyum dan tersipu malu. Senyum itu yang membuatku jatuh cinta.
Aku tersenyum tipis. “Tidak Ma, tidak. Aku bahagia meski hanya duduk dan menatap matamu”
Aku rasa, itulah ucapanku yang paling tulus selama aku hidup bersamanya. Memang benar, malam ini aku tidak ingin apapun, aku tidak ingin siapapun. Aku hanya ingin senyum manis istriku, pelukan hangat istriku.

Aku dan istriku menghabiskan malam dengan tawa, dengan genggaman tangan, dengan pelukan yang ternyata selama ini aku rindukan. Betapa aku menyadari bahwa cinta adalah hal yang tak bisa diungkapkan dengan apapun, bahkan dengan puisi paling indah sekalipun. Malampun berlalu. Aku dan istriku tertidur dalam suasana rindu.
Pagi yang biasa, istriku sudah pergi mengajar. Hari ini aku tak mengharapkan arini datang ke rumahku. Tetapi…
Ting..Tong.. Bel berbunyi, aku tahu itu arini. Dan benar saja. Terpaksa aku mempersilahkannya masuk, bukan untuk bercinta, tetapi untuk mengakhiri perselingkuhan ini.

“Kenapa? Ketahuan istrimu?” Ia sedikit membentak dan cemberut.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku mencintainya.”
Arini diam. Menatap mataku.
 “Kau tidak mencintainya.” Ia berbicara dengan nada menuduh.
“Aku mencintainya, aku yang tahu!”
“Kau tidak mencintaiku?”
 “Entahlah. Mungkin aku hanya mencintai kenangan.
 “Kenapa harus kenangan, aku nyata sekarang, bukan hanya sekedar kenangan!”
“Aku tahu, tapi…”
“Kalau kau mencintainya, kau tidak mungkin bercinta denganku, kau tidak mungkin mengingatku saat kau sedang bersama istrimu” Tiba-tiba Arini memotong.
“Tidak ada yang bisa menolak kenangan akan masa lalu, dan aku salah sudah menerimamu kembali. Aku tidak mencintaimu, aku mencintai kenangan.”
“Jangan berdalih!”
“Aku tidak berdalih.”
Sunyi menyapa lagi. Aku terdiam. Arinipun terdiam. Tiba-tiba handphonenya berdering.
“Iya, aku tunggu kamu di stasiun.”  Arini menjawab singkat, lalu menutup teleponnya.
“Siapa?”  Sebenarnya aku ragu untuk bertanya, antara ingin tahu dan tidak peduli.
“Suamiku.”
“Suami? Kau tak pernah bercerita kalau kau sudah bersuami!”
“Kau sendiri tak pernah bertanya.” Arini menjawab dengan nada tanpa dosa.

Aku merasa kecewa. Bukan karena patah hati ia telah bersuami. Tetapi aku ingat istriku, aku telah mengkhianatinya demi perempuan yang telah membohongiku. Mungkin ini balasan untuk seorang pembohong, yaitu dibohongi.
“Dan siapa bilang masalalu tidak bisa ditolak?” Tiba-tiba Arini melanjutkan pembicaraanya. “Sebenarnya siapapun bisa melupakan masa lalu dengan lebih menghargai siapa dan apa yang ia miliki saat ini. Dan kau, kau tidak melakukannya! Kau lebih memilih aku dengan dalih kenangan dibanding istrimu”. Kemudian Arini pergi meninggalkan rumahku. Ia menutup pintu tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

Aku terdiam kembali, seperti membenarkan ucapannya. Benarkah apa yang dikatakan arini? Bahwa aku tidak mencintai istriku? Tidak. Aku yakin kalau aku mencintainya. Tetapi aku memang bersalah karena tidak menghargainya setelah apa yang aku lakukan dengan arini.

Rumah semakin terasa sepi. Lebih sepi dari biasanya. Aku telah berdosa pada istriku. Aku menyesal telah mengkhianatinya. Aku ingin mengakui kesalahanku, tapi aku takut ia meninggalkanku. Lebih baik aku diam saja. Dan menyimpan semua itu dalam hati.
Entah mengapa, aku seperti ingin cepat-cepat bertemu dengan istriku. Mungkin karena rindu. Ingin bersandar di bahunya, aku rindu membelai rambutnya. Ingin memanjakannya, mencintainya, dan tentu saja menghargainya.

Kutinggalkan rumah, kemudian aku menyusulnya ke tempat ia mengajar. Padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku benar-benar tak bisa menahan rindu ini. Aku ingin memeluknya sebagai rasa bersalahku.
Setibanya di sekolah. Tak kulihat anak-anak yang berlarian. Barangkali jam istirahat sudah usai dan  anak-anak sedang belajar.

Aku menunggunya di halaman sekolah. Aku mendengar suara seorang guru yang sedang menjelaskan pelajaran, entah pelajaran apa. Tak begitu terdengar. Suaranya samar tapi keras. Barangkali itu suara istriku yang sedang mengajar murid-muridnya. Tapi tak pernah kudengar suaranya sekeras itu saat sedang di rumah.

Pukul sebelas bel dibunyikan. Anak-anak berhamburan dari dalam kelas. Berteriak-teriak. Bising sekali. Para guru mengikut keluar dari belakang, dari ruang kelasnya masing-masing. Tak kulihat sosok istriku keluar dari kelas manapun. Seorang guru yang suaranya terdengar keras tadi keluar dari ruang kelasnya. Ternyata itu bukan istriku, tubuhnya gendut, dan menyeramkan. Aku mencoba bertanya kepadanya.
“Oh, Bu Hana yang guru agama itu ya?”
“Iya, Bu.”
“Dia tadi pulang lebih awal.”
“Pulang lebih awal? Sendirian?
“Tidak, tadi dia pulang diantar oleh pak Kepala Sekolah”. Jawaban yang menusuk hati.
“Kepala Sekolah? Jam berapa, bu?”
"Iya, sekitar pukul sembilan. Mungkin mereka masih di perjalanan pulang."

Suara bising anak-anak yang berhamburan semakin samar di telinga, semakin jauh, menjauh, lenyap, dan sunyi. Seketika sekolah menjadi sepi. Tak ada suara, hanya ada hembusan angin, menusuk hatiku yang bagai dihujam satu pertanyaan pahit; ada apa dengan istriku?


***

Selasa, 10 Desember 2013

CERPEN - PERPISAHAN

Diposting oleh Catatan Angin di 01.49 0 komentar


PERPISAHAN
Oleh : Royhanatul Fauziah

Setiap kali aku melewati dermaga itu, aku selalu teringat pada wajahmu yang selalu berpeluh, juga pada bau matahari yang menempel di tubuhmu, atau pada rambut panjangmu yang tergerai, tersibak angin selatan.

Di dermaga itu kau meninggalkanku dengan senyum paling pasi. Kau begitu lucu ketika tersenyum, bahkan ketika menangispun wajahmu selalu menyisakan kelucuan. Wajahmu, semburat bulan purnama. Matamu sayu, samar-samar kulihat air mata 
menetes di pipimu yang bulat.

Kenapa kau menangisi kepergianmu sendiri? Harusnya aku yang lebih pantas menangis. Menangisimu, karena aku yang kehilanganmu.

Tapi aku masih mampu menahan gerimis di mataku. Aku tak mengerti, apalah arti air mata jika kepergian menjadi sebuah pilihan yang tak mampu kau halangi, meski dengan setumpuk kenangan manis, kau tetap tak bisa menahannya tinggal meski dengan sejuta alasan. Jika dia ingin pergi, maka dia akan pergi. Dan kau hanya bisa terdiam, membiarkannya pergi sambil tak tahu harus berbuat apa. 

Haruskah kulambaikan tangan untuk sebuah kepergian? Lambaian tangan adalah ucapan selamat tinggal dengan bahasa yang lain. Jangan, jangan ucapkan selamat tinggal. Jangan lambaikan tanganmu karena aku tak sanggup membalasnya.
Cahaya matahari senja memantul ke arahku lewat riak air di laut. Cahaya keemasan itu membangunkanku dari lamunan masa lalu.

Ah, dermaga itu kini hanya tinggap kapal-kapal yang sepi. Sepi? Itulah yang kini kurasakan. Adakah kau merasakan kesepian yang sama disana? Atau kau sedang menikmati senja dengan kekasihmu yang baru? Entahlah, yang pasti saat ini aku menikmati kesepianku.

Sejak enam tahun kepergianmu, laut seperti hamparan buku harian yang kosong. Apa yang hendak kutulis, jika segala kalimat-kalimat indah ada padamu dan kau membawa pergi kalimat-kalimat indah itu. Laut hanya menyisakan kebiruan, kebiruan yang selalu mengingatkanku pada biru matamu.

Aku tak pernah tahu alasan kepergianmu. Mungkin kau ingin memperbaiki hidupmu dengan bekerja di sebrang sana, mungkin kau bosan berada di desa ini bersamaku, atau mungkin kau pergi karena diusir para tetangga karena kau terlalu cantik untuk seorang gadis desa. Ah, mengapa kau merahasiakan alasan kepergianmu?
Aku membutuhkan alasan untuk sebuah kepergian, tetapi kau tak pernah mengucapkannya. Apakah kau akan pergi dengan laki-laki lain? Aku tak pernah tahu.

“Kuharap kau mau menerima kepergianku meninggalkan desa ini”  Itulah kalimat terakhir yang kau ucapkan ketika kita duduk berdua di bawah pohon kelapa yang sudah kering. Kau mengucapkannya sembari tersenyum. Aku tahu, itu bukan senyummu yang paling tulus.

Aku tak berani bertanya “kenapa”, karena matamu terlanjur berkaca-kaca. Aku takut membuatmu menangis.  Dan aku tak berani menatap matamu lebih dalam.
Aku mengantarmu ke dermaga itu. Dermaga adalah tempat dimana segala pertemuan dan perpisahan bisa terjadi. Seperti perpisahan kita. Kubiarkan badan kapal mengayunkan tubuhmu hingga jauh dan menjauh. Aku masih berdiri memandangi kapal yang kau tumpangi. Tubuhmu perlahan menghilang dibalik cahaya senja, menjadi sebuah siluet. Dan aku yakin saat itu kita telah berpisah, pada senja yang sendu.

Aku tak menangis waktu itu, tapi entahlah. Yang pasti saat itu aku merasa sangat sedih. Atau karena kesedihanku, aku tak menyadari kalau aku sedang menangis.
Tetapi, setiap kali aku merindukanmu, aku selalu menyadari bahwa kristal-kristal sering berjatuhan dari mataku, membasahi bantal tidurku yang lapuk, membasahi mimpi burukku pada malam-malam yang sunyi. Membuat mataku sembab di pagi hari dan ditertawakan embun dini hari karena aku laki-laki. Apakah laki-laki tak boleh menangisi kerinduan yang tak pernah sampai? Apakah laki-laki tak boleh menangisi kenangan? Apakah kau sedang menangis, seperti saat kau menangis pada senja yang sendu?

Pernah suatu hari kau kembali dengan gincu di bibirmu, juga baju yang berwarna merah terang, kau kembali dengan rambut sebahu, aku tak peduli kemana rambutmu yang dulu sepinggang itu,. Aku hanya peduli padamu yang waktu itu telah kembali. Tapi kau begitu lain, seperti bukan kau. Kau yang kukenal dulu begitu sangat sederhana dan anggun.

Kau masih berdiri di depan perahu yang tadi kau tumpangi. Aku hanya menatapmu sambil berdiri di lidah pantai. Kaupun menatapku dengan tatapan heran. Aku terdiam, barangkali kau sudah tak mengenaliku.

Tiba-tiba dari belakang seorang lelaki menuntun seorang anak perempuan berusia lima tahun dan mereka memanggilmu “Mama”. Sambil tertawa riang, kau menyambutnya dengan pelukan hangat. Pelukan yang selalu kurindukan selama enam tahun perpisahan kita. Kau telah kembali dengan cinta yang lain.

Dulu kau meninggalkanku untuk sebuah perpisahan. Dan sekarang mengapa kau harus kembali, untuk sebuah perpisahan yang lebih menyakitkan?
Seperti yang pernah kukatakan, Dermaga adalah tempat dimana segala pertemuan dan perpisahan bisa terjadi. Seperti pertemuan dan perpisahan kita.

Jumat, 21 Juni 2013

CERPEN - JEJAK LUKA

Diposting oleh Catatan Angin di 01.29 0 komentar


JEJAK LUKA
Oleh : Royhanatul Fauziah

Di suatu sore yang kemuning, cahaya matahari senja merambat masuk lewat kaca jendela yang sedikit berdebu itu. Suara lonceng terdengar berdenting-denting tertiup angin sore dari balik tirai merah yang sebagian menutupi kaca. kamar yang sepi, sesepi hati perempuan yang sedang asik sendiri di dalam kamarnya mengetik sajak-sajak cinta untuk seorang lelaki yang sudah setahun ini mengisi lembar-lembar buku hariannya, mengisi hidupnya.

Bahagia. Ya, itulah yang dulu dirasakan perempuan yang memiliki rambut bergelombang itu. bagaimana tidak, pacarnya yang selama ini mengisi hidupnya adalah seorang lelaki yang sangat berbeda. Dialah lelaki pertama yang menyentuh seluruh hati dan jiwanya, lelaki pertama yang membuat semua musim di hidupnya menjadi berwarna, berwarna seperti pelangi saat hujan reda di suatu pagi yang sejuk, lelaki yang telah mengenalkannya pada cinta yang murni, semurni embun di pagi hari, dan dialah lelaki yang telah mengenalkannya pada sajak. Sajak-sajak cinta yang kata-katanya terlahir dari tulisan para malaikat di surga.

Pernah suatu hari lelaki pujaan hatinya itu menuliskan seribu puisi cinta untuknya, puisi yang ditulis dari pena ketulusan diatas kertas putih yang suci. Kata-katanya begitu indah, hingga membuat perempuan itu merasa berharga dihadapannya. Bagaimana tidak, semua puisi itu berisi tentang cintanya terhadap si perempuan yang menurutnya telah membangkitkan kembali hatinya yang telah mati oleh mantan kekasihnya, tentang perempuan yang telah membuatnya tidak sehampa dulu saat ia masih sendiri, perempuan yang membuat lelaki itu mengucap maaf padahal sebenarnya lelaki itu bukan peminta maaf, dan puisi tentang perempuan yang telah membuatnya mengucap janji. Ya, dialah lelaki yang ia selalu sebut sebagai penyair.
Janji. Ya, semua janji yang selalu diucapkannya selalu teringat dalam benak perempuan itu. janji yang paling diingatnya adalah janji ketika penyair itu memberinya puisi dibawah pohon mangga di suatu musim semi. Daun-daun berguguran di hadapan mereka, tidak banyak kata yang terucap.

“Puisimu yang beribu itu bukan hanya tentangku, bukan? Sebelumnya kau telah menulis banyak puisi untuk perempuan-perempuan sebelum aku”.

“Puisi yang beribu itu tidak seberapa banyaknya, karena mulai saat ini bahkan mulai detik ini sampai aku tua dan mati nanti semua puisiku cintaku adalah tentang kamu, perempuanku.”
Bagi hati seorang perempuan kata-kata itu adalah janji yang terpatri, seperti tulisan yang terpahat di batu, abadi. Dan selalu diingatnnya.
Seringkali, di malam yang pekat, dingin, dan sepi ia selalu mengingat-ngingat lagi ucapan penyair itu tentang puisi yang mempesonakan hati perempuan itu. ia sering bertanya pada hatinya sendiri, benarkah apa yang telah diucapkannya.
“Hanya aku yang kan mengisi lembar-lembar sajak di kertasnya? Apakah hanya aku? Apakah kau tahu, aku begitu ingin kata-katamu itu adalah sajak yang menjelma menjadi harapan dan nyata adanya, bukan hanya mimpi indah yang dimana tiba-tiba aku terjaga di suatu malam keindahan itu pudar, pergi, hilang, tak bersisa. Ah, Bukankah penyair itu bebas? Bebas menulis apa saja yang ingin ditulisnya? Aku, cinta, harapan, luka, bahkan masa lalu? Semua itu adalah kehidupan yang wajar ditulis seorang penyair.”

Belakangan perempuan itu selalu membaca lagi sajak-sajak masa lalu penyair itu. Tak bisa ia pungkiri, kata-katanya begitu indah diucapkan oleh seorang penyair kepada perempuan yang pernah mengisi hatinya dulu. Bahkan perempuan itu merasa kata-kata itu indah melebihi keindahan sajak-sajaknya yang ditulis untuknya sendiri.
“Apakah aku hanya perempuan biasa, seperti perempuan-perempuan lain yang sering ia temui, dibuat sajak sederhana lalu dilupakan? Apakah aku tak seistimewa  kekasihnya yang dahulu?” itulah pertanyaan yang tak pernah ia sampaikan.

Bertahun-tahun dalam kebersamaan, puisi yang diberikan lelaki dibawah pohon mangga itu ternyata adalah puisi terakhir yang dibuatnya untuk perempuan yang dikenalnya lewat sahabatnya itu.

Penyair itu tak membuat sajak lagi. Entah apa yang membuatnya tak pernah menulis puisi lagi untuknya. Mungkin perempuan itulah penyebab ia berhenti menulis sajak. Yang jelas puisinya tak sebanyak dulu saat lelaki itu belum mengenalnya.
Janji? Ya, seperti tulisan yang terukir diatas pasir yang akhirnya terhapus angin, atau terkikis ombak. Hilang.

Di suatu malam yang kuyup dihujam air mata, ada ego yang tak terperi saat penyair 
dan perempuan itu merasa keyakinan cintanya diterpa badai. Seperti ulat katanya, yang menggerogoti daun-daun keyakinan. Saat itu juga penyair itu meminta kembali puisi yang pernah ia tulis untuk kekasihnya itu. perempuan itu diam dan tak mau mengembalikan puisi yang dicintainya itu. tapi amarah lebih cepat menguasai hati perempuan yang mencintai penyair itu. ia masuk kamar, mencari puisi yang disimpan dan dijaganya selama ini kemudian melemparkannya ke hadapan penyair itu.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, penyair itu langsung merobek sajak-sajak yang dulu dibuatnya dengan hati itu. untunglah robekan itu hanya terbagi empat. Dan saat penyair itu pergi, perempuan itu langsung memungutnya kembali dan menyatukan lagi kertas-kertas yang telah terpisah itu dengan selotip. Tulisannya masih bisa terbaca, sajaknya utuh. Tapi entahlah dengan makna sajak itu, apakah masih utuh juga?

Perempuan itu tak yakin, karena setelah kejadian di malam yang kuyup itu amarah dan ego yang tak teperi itu terulang lagi. Penyair itu meminta lagi sajak-sajaknya, dengan amarah yang lebih berapi. Perempuan itu mengulang hal yang sama pula, memberikan lagi sajak-sajak itu kepada si penyair karena amarah yang lagi tak bisa tertahan. Kali ini ia bukan hanya merobek sajak-sajak di kertas suci itu, tapi juga membakarnya, hingga menjadi debu, lebur, hilang, ditiup angin kesedihan.
Sajak terakhir yang berakhir tragis.
Janji itu kini seperti sajak di kertas yang menjadi debu setelah dibakar penulisnya sendiri.

Perempuan itu kini hanya berteman air mata, menulis sajak-sajak luka dalam buku hariannya.  Seorang diri. Perempuan itu terluka dan kalah.
 

CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review