Selasa, 03 Agustus 2021

UCAPAN SELAMAT TINGGAL

Diposting oleh Catatan Angin di 10.31 0 komentar
Sejak semula, aku hanya sebatas ranting yang melekat di dinding waktu yang seringkali mencuri teduh di bawah daun-daunmu yang menenangkan.

Di sana aku menunggu, siapa yang akan patah lebih dulu?

Tapi aku tahu, teduhmu bukan aku, patah hatimu bukan aku. Maka, kepergian tak akan lebih pedih dari air matamu yang pernah jatuh kala itu.

Berbahagialah, sebagaimana kau dulu.
Sebagaimana  kau pernah menjaganya tetap utuh dan tulus.

Tak perlu ucapan selamat tinggal untuk sebuah  kepergian, selain maaf untuk pelukan terakhir yang tak menenangkan itu, dan terima kasih atas kesabaranmu memeluk kegelisahanku.

Kini kau pun akan bebas sebebas angin, seperti yang sempat kau katakan padaku diantara tangis yang tertahan malam itu.

Kini, aku hanya sebatas ranting yang lekas patah
kemudian jatuh.

Selasa, 11 Mei 2021

Doa yang Terlambat

Diposting oleh Catatan Angin di 05.16 0 komentar
Waktu itu, aku masih sekitar umur 12 tahun ketika kedua orang tuaku mengajakku ke rumah sakit untuk menjenguk seorang bapak-bapak yang sedang sakit kritis.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung diminta menuju ruangan bapak itu. Aku ditemani oleh seorang ibu-ibu paruh baya.

Kulihat bapak itu sedang terbaring lemah, namun tangannya seolah ingin meraih tanganku dan memelukku.

Dengan perasaan sedih dan tak mengerti, akupun menggenggam tangannya, lalu ibu itu memelukku sambil menangis, yang kutahu kemudian ibu itu ternyata adalah istrinya.

Mereka tak mengatakan apapun, begitu juga kedua orangtuaku. Entah kenapa, aku pun tak mengeluarkan satupun pertanyaan.

Beberapa waktu kemudian, bapak-bapak itu meninggal dunia...

Aku diajaknya ke rumah ibu dan bapak itu lalu diminta untuk mensholatinya tanpa tahu siapa dan kenapa aku harus mensholatinya. Biasanya, orang tuaku tak pernah memintaku melakukan itu. 

Orang-orang disana menangis dan memelukku, akupun ikut menangis dan bersedih tanpa tahu mengapa. Tapi hatiku sangat sakit.

Beberapa tahun kemudian saat aku sudah duduk di bangku kuliah, kedua orangtua ku baru memberi tahuku tentang siapa bapak dan ibu itu.

Mereka adalah ayah dan ibu kandungku...

Selama ini aku tinggal dengan orang tua angkat sejak aku berusia 5 bulan.

Dan saat itu, aku belum sempat mengatakan apapun. Ayahku meninggal dalam keadaan aku tidak menganggapnya ayah. Aku terlambat.

Seandainya aku tahu, saat itu aku ingin mengatakan bahwa aku menyayangi ayah.

Sekarang umurku sudah 29 tahun dan masih ku ingat bagaimana genggaman tangannya untuk pertama dan terakhir kalinya.

Tapi aku tidak menyalahkan siapapun, aku mengerti kalau pada saat itu aku belum cukup umur untuk tahu semuanya..

Sekarang aku bisa mengirim doa untuk ayah meskipun terlambat..


Senin, 09 November 2020

SUATU MALAM DI HARI KAMIS, 5 NOVEMBER 2020

Diposting oleh Catatan Angin di 09.59 0 komentar
Suatu hari di Kamis malam,  tepat pukul 23.00. Seorang lelaki dengan amarahnya hendak masuk ke kamarku setelah sebelumnya ia melempar semua barang yang ada di sekitarnya, ia melempar vas besar hingga terdengar suara keras. 

Saat itu semua orang barangkali telah terlelap atau sibuk dengan malamnya sendiri.

Aku hanya berdua dengan anakku di kamar yang sunyi.

Pintu kamar telah ku kunci sebab aku takut lelaki itu menyakitiku lagi. Namun lelaki itu tetap berusaha untuk masuk. Ia mendobrak pintu dengan tangannya yang kuat dan besar. Kudengar suara denting gagang pintu terjatuh ke lantai. Daun pintu itu telah dirusaknya. Apa yang lelaki itu inginkan?

Ketika lelaki itu tak berhasil menerobos pintu,  ia menuju jendela kamar yang terbuat dari kayu. Kayu itu mudah sekali rapuh. Seketika semua terasa sunyi kembali. Hanya ada suara gertakan kayu dan bayangan lelaki itu yang tengah berusaha untuk merusak jendela.

Tuhan,  aku takut sekali!

Aku mencoba menelpon orangtuaku yang berada di kamar yang lain. Namun tak ada jawaban. Aku teringat saudaraku di sebelah rumah, barangkali ia belum tidur. Dengan tangan yang gemetar,  aku mencari namanya di kontak.

"Halo." Jawaban di telepon itu membuatku merasa sedikit lega, namun ketika aku ingin mengatakan sesuatu,  bibirku seperti terkunci. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku tak bisa mengatakan apapun meski hanya satu kata, karena lelaki itu masih berusaha membuka jendela. Bayangannya membuatku takut. Aku takut sekali! Aku takut sekali! Aku takut sekali!

Telepon masih ku genggam dengan tangan gemetar, dengan suara tertahan. Kudengar suara di telepon itu masih bertanya-tanya,  "Ada apa.. Ada apa?"

Dadaku terasa sesak, sesak, dan sakit. Di tengah ketakutan dan semua tekanan itu, seketika segalanya terasa gelap.......

Dan malam itu, aku berteriak. 

Teriakan yang memekakan telinga. Aku tak bisa menahannya. Seperti bukan diriku. Seperti sesuatu keluar begitu saja dari dalam dada. 

Seketika anakku yang tengah tertidur memelukku. Tapi aku masih menangis dan berteriak tak tertahan. 

Sesaat kemudian kudengar suara dibalik pintu tengah ramai, yang kutahu setelahnya tetangga sudah berkumpul. Mereka menyuruhku membuka kunci. 

Lelaki itu tak berhasil membuka pintu dan jendela, setelah mendengar teriakanku, ia entah kemana.

Namun aku masih berteriak, pikiranku entah dimana, aku dipenuhi ketakutan, aku memanggil nama Ayah dan Ibu. 

"Ayaaah... Ibuuu...  Aku takut...  Aku takut lelaki itu...!! Aku takut lelaki itu.......!! " Dan aku masih berteriak keras sekali sambil memeluk anakku yang sedang ketakutan. Hanya itu yang kuingat. 

Sementara suara diluar pintu menyuruhku untuk tenang, Katanya, "Ayah ibu diluar.  Buka kuncinya pelan-pelan."

Lalu aku berusaha membuka pintu itu, dan semua orang meraihku dan mengambil anakku dari pangkuanku. 

Aku terduduk di lantai, aku menangis dan berteriak di pelukan saudaraku. Sementara saudaraku yang lain berusaha membuka kepalan tanganku yang kuat. 

Aku tak bisa berbicara apa-apa,  aku hanya terus berteriak dan menangis terisak hingga segelas air putih menenangkanku.

Semua berlalu ketika semua orang membawaku ke kamar yang lain. Aku sudah kembali tenang,  begitupun anakku yang tertidur di pelukanku. 

Lelaki yang ku takuti itu entah pergi kemana. Aku tak ingin tahu dan tak ingin mencari tahu. Meski aku takut ia menemui ku lagi suatu saat nanti. 

Mungkin kau bertanya-tanya,  siapa lelaki itu? Barangkali ia hanya bayangan,  barangkali ia nyata?

Apapun itu, ku harap aku tak pernah melihatnya lagi meski hanya sekelebat bayangan,  ku harap ia tak menjadi mimpi buruk di setiap tidurku. Ku harap,  malam itu adalah kali terakhir aku melihatnya.

Ditulis pada hari Selasa, 10/11/20

Sabtu, 18 Juli 2020

Sayap yang Patah

Diposting oleh Catatan Angin di 06.34 0 komentar

Aku akan bercerita, tentang sepasang sayap yang terbang dibasuh hujan.

Sepasang sayap yang hanya akan kau temui dalam bayangan pagi. Kemudian hilang di sore hari.

Saat malam, mereka bersembunyi di bilik waktu. Kemudian saling bertukar cerita tentang impian-impian dan hal apa saja yang ingin mereka lakukan esok hari.

Kau tau, sepasang sayap adalah satu raga dengan pemiliknya. Mereka berbeda namun sejiwa. 

Mereka ingin saling memeluk tetapi bagaimana mungkin?

Ada jarak yang memisahkan. 

Ada batas yang tak bisa ditebas.

Sayap-sayap itu bisa saja bertemu, saling menyentuh, saling memeluk. Namun jika itu terjadi, mereka akan patah. Mereka bukan lagi "sepasang sayap".

Meraka hanya akan menjadi sayap-sayap patah. Seperti kata Khalil Gibran.

Sayap itu rela terluka, rela tidak bisa terbang lagi demi bisa bersamad dengan sayap yang lain.

Akhirnya ia merelakan dirinya terpisah dari tubuhnya.

Begitu bodohnya dia.

Tubuh itu kini melemah, tak dapat terbang lagi sebab ia kehilangan satu sayapnya. 

Begitupun sayap yang lain, ia tak berarti apa-apa, karena baginya, sepasang berarti sempurna meski tak bisa bersama.

Sayap bodoh itu kini menyesal, ia tak lebih dari seonggok sayap yang akan lebur termakan usia.

Namun tak ada yang dapat mengembalikan waktu.

Kini yang tersisa hanyalah seekor burung dengan sayap patah.

Kepikiran aja

Diposting oleh Catatan Angin di 06.09 0 komentar
Dulu sering kudengar pertanyaan,
"Nanti mau dibeliin apa?"

Dan selalu kujawab tidak ingin apa-apa, 
padahal aku ingin banyak hal.

Meski tanpa menyebutkannya, dia selalu tahu apa yang kumau.

Sekarang kupikir, gimana ya rasanya pengen apa-apa tinggal minta?

Terus denger kalimat
"Iya, sabar ya, nanti dibeliin."

Enak kali ya..

Selasa, 14 Juli 2020

Mencintai bukan Sekedar Memberi dan Menerima

Diposting oleh Catatan Angin di 07.06 0 komentar

Banyak orang mengatakan "Cinta itu memberi dan menerima."

Terlalu klasik.

Memberi itu mudah. Terlalu mudah malah.
Semua orang bisa memberi. Apapun yang orang jatuh cinta miliki pasti akan ia beri.

Maka jangan katakan bahwa cinta adalah memberi jika memberi semudah kau memberikan separuh waktu istirahatmu untuk menemaninya, atau semudah kau menghabiskan isi dompetmu untuk membelikan apa yang dia mau.

Memberi mungkin membuatmu bahagia, tapi memberi bukan keharusan, memberi hanya salah satu usaha untuk dicintai.

Yang sulit itu menerima.

Kalau tak ingin menerima salah satu yang ada dalam dirinya, jangan katakan bahwa itu cinta.

Maka cinta adalah menerima. Sesulit kau menerima satu saja kekurangannya. Sesulit kau menerima masa lalunya. Sesulit kau menerima rasa cemburu. Sesulit kau menerima rasa sakit yang ia hadirkan.

Sebab ketika kau sudah jatuh cinta, menerima seharusnya sudah menjadi bagian di dalamnya. Itu sebaik-baik cara mencintai.

Minggu, 05 Juli 2020

Persegi

Diposting oleh Catatan Angin di 13.36 0 komentar

Seandainya, di dunia ini hanya ada satu jenis bentuk. Persegi, namanya. Hanya ada satu jenis bentuk, dan satu-satunya.

Di suatu tempat, hiduplah seorang laki-laki yang sangat mencintai persegi, dia suka dengan segala hal yang berhubungan dengan persegi. Sejarahnya, ceritanya, setiap sisinya, dan semuanya. Bahkan ia menyimpan segala benda yang berbentuk persegi. Tidak ada hal yang dia sukai di dunia melebihi rasa sukanya dengan bentuk persegi.

Sedangkan di belahan bumi yang lain, ada seorang perempuan yang sangat membenci bentuk persegi. Dia benci hingga ingin membuang segala hal jika itu berbentuk persegi, ia tak suka mendengar apapun tentang persegi, sepatah katapun perempuan itu tidak mau membahas apapun tentang persegi.

Suatu hari, laki-laki dan perempuan itu dipertemukan. Mereka bercerita tentang banyak hal, kecuali persegi. Kebersamaan membuat mereka saling jatuh cinta, mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.

Lalu, tiba saatnya lelaki itu membicarakan persegi dan menunjukkan seluruh miliknya yang berbentuk persegi. Ia pun menceritakan betapa ia sangat mencintai persegi. Perempuan itu marah, ia benci mendengar dan melihat semuanya.

Persegi, persegi, persegi.

Perempuan itu ingin pergi, sebab ia tidak ingin hidup dengan lelaki yang mencintai apa yang dia benci. Meskipun berat baginya kehilangan lelaki yang dicintainya.

Lelaki itu menahannya, ia berkata bahwa ia tidak bisa kehilangan perempuan itu. Tapi ia juga tidak bisa kehilangan persegi.

Bagaimana kemudian?

Apa yang harus mereka lakukan agar bisa tetap bersama?

Minggu, 24 Mei 2020

Lebaran

Diposting oleh Catatan Angin di 05.22 0 komentar

Aku hanya ingin bercerita
Bahwa hariku tidak menyenangkan
Seperti biasanya

2020

Selasa, 05 Mei 2020

Ketidakjelasan

Diposting oleh Catatan Angin di 10.12 0 komentar

Sudah berapa banyak rindu yang kita ucapkan?
Dan semua selalu kembali pada sepi

Bukan hanya jarak yang harus ditempuh, lebih dari itu, ada ruang yang kadang aku sendiri tak mengerti dimana batasnya--

Yang kutahu,
Aku merasa terkurung sekaligus bebas pada saat yang bersamaan

Aku tidak berkata bahwa aku bahagia
Tapi aku juga tidak bersedih
Hanya karena sebait kenangan yang membuatku tersenyum mengingatnya

Bagaimana  dengan kamu?

Aku tahu, kota ini tak pernah benar-benar merekam cerita kita
Ceritamu, ada di kota lainnya.

Barangkali kita hanya angin lalu
Yang kebetulan dipertemukan

Atau

Waktu memaksa kita hanya untuk saling merindukan

Senin, 04 Mei 2020

Nak, perpisahan itu apa?

Diposting oleh Catatan Angin di 01.45 0 komentar

Seperti apa perasaan setelah perpisahan itu?

Barangkali hanya perasaan sedih yang sementara, untukku sendiri tapi.

Lalu bagaimana untukmu, nak?

Kau begitu bahagia bertemu dengannya, ayahmu.

Kau memeluknya tanpa perasaan asing.

Nak, apa kau juga akan bersedih sementara seperti aku?

Atau selamanya?

Atau kau akan marah pada keadaan?

Perpisahan, kenapa begitu rumit dan menakutkan?

 

CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review