Arsip Blog
Pengikut
Entri Populer
-
KEBUN MAWAR DAN KEINDAHANNYA Samarang, Garut. Jawa Barat Oleh : Royhanatul Fauziah Hai.. Apa kabar..?? udah lama nih ga nge’blo...
-
sepi bagaikan api dan kau adalah bara yang menambah gersang kesepianku yang malang Agustus 2013
-
angin yang berhembus menambah semarak lambai mawar-mawar di taman dan biarlah duri itu tetap pada tangkainya, sayang karena aku kelopak m...
-
PERPISAHAN Oleh : Royhanatul Fauziah Setiap kali aku melewati dermaga itu, aku selalu teringat pada wajahmu yang selalu berpeluh,...
-
KARMA Oleh : Royhanatul Fauziah Jujur saja, malam ini aku seperti ditikam kenangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat waja...
-
PERCAKAPAN MALAM Kita saling menunggu, diantara dinginnya malam Di jarak yang hanya dipisahkan deretan rumah dan gedung-gedung kota ...
-
JEJAK LUKA Oleh : Royhanatul Fauziah Di suatu sore yang kemuning, cahaya matahari senja merambat masuk lewat kaca jendela yang se...
Writer
Label
Jumlah Penayangan Blog CATATAN ANGIN
Selasa, 03 Agustus 2021
UCAPAN SELAMAT TINGGAL
Selasa, 11 Mei 2021
Doa yang Terlambat
Senin, 09 November 2020
SUATU MALAM DI HARI KAMIS, 5 NOVEMBER 2020
Sabtu, 18 Juli 2020
Sayap yang Patah
Aku akan bercerita, tentang sepasang sayap yang terbang dibasuh hujan.
Sepasang sayap yang hanya akan kau temui dalam bayangan pagi. Kemudian hilang di sore hari.
Saat malam, mereka bersembunyi di bilik waktu. Kemudian saling bertukar cerita tentang impian-impian dan hal apa saja yang ingin mereka lakukan esok hari.
Kau tau, sepasang sayap adalah satu raga dengan pemiliknya. Mereka berbeda namun sejiwa.
Mereka ingin saling memeluk tetapi bagaimana mungkin?
Ada jarak yang memisahkan.
Ada batas yang tak bisa ditebas.
Sayap-sayap itu bisa saja bertemu, saling menyentuh, saling memeluk. Namun jika itu terjadi, mereka akan patah. Mereka bukan lagi "sepasang sayap".
Meraka hanya akan menjadi sayap-sayap patah. Seperti kata Khalil Gibran.
Sayap itu rela terluka, rela tidak bisa terbang lagi demi bisa bersamad dengan sayap yang lain.
Akhirnya ia merelakan dirinya terpisah dari tubuhnya.
Begitu bodohnya dia.
Tubuh itu kini melemah, tak dapat terbang lagi sebab ia kehilangan satu sayapnya.
Begitupun sayap yang lain, ia tak berarti apa-apa, karena baginya, sepasang berarti sempurna meski tak bisa bersama.
Sayap bodoh itu kini menyesal, ia tak lebih dari seonggok sayap yang akan lebur termakan usia.
Namun tak ada yang dapat mengembalikan waktu.
Kini yang tersisa hanyalah seekor burung dengan sayap patah.
Kepikiran aja
Selasa, 14 Juli 2020
Mencintai bukan Sekedar Memberi dan Menerima
Banyak orang mengatakan "Cinta itu memberi dan menerima."
Terlalu klasik.
Memberi itu mudah. Terlalu mudah malah.
Semua orang bisa memberi. Apapun yang orang jatuh cinta miliki pasti akan ia beri.
Maka jangan katakan bahwa cinta adalah memberi jika memberi semudah kau memberikan separuh waktu istirahatmu untuk menemaninya, atau semudah kau menghabiskan isi dompetmu untuk membelikan apa yang dia mau.
Memberi mungkin membuatmu bahagia, tapi memberi bukan keharusan, memberi hanya salah satu usaha untuk dicintai.
Yang sulit itu menerima.
Kalau tak ingin menerima salah satu yang ada dalam dirinya, jangan katakan bahwa itu cinta.
Maka cinta adalah menerima. Sesulit kau menerima satu saja kekurangannya. Sesulit kau menerima masa lalunya. Sesulit kau menerima rasa cemburu. Sesulit kau menerima rasa sakit yang ia hadirkan.
Sebab ketika kau sudah jatuh cinta, menerima seharusnya sudah menjadi bagian di dalamnya. Itu sebaik-baik cara mencintai.
Minggu, 05 Juli 2020
Persegi
Seandainya, di dunia ini hanya ada satu jenis bentuk. Persegi, namanya. Hanya ada satu jenis bentuk, dan satu-satunya.
Di suatu tempat, hiduplah seorang laki-laki yang sangat mencintai persegi, dia suka dengan segala hal yang berhubungan dengan persegi. Sejarahnya, ceritanya, setiap sisinya, dan semuanya. Bahkan ia menyimpan segala benda yang berbentuk persegi. Tidak ada hal yang dia sukai di dunia melebihi rasa sukanya dengan bentuk persegi.
Sedangkan di belahan bumi yang lain, ada seorang perempuan yang sangat membenci bentuk persegi. Dia benci hingga ingin membuang segala hal jika itu berbentuk persegi, ia tak suka mendengar apapun tentang persegi, sepatah katapun perempuan itu tidak mau membahas apapun tentang persegi.
Suatu hari, laki-laki dan perempuan itu dipertemukan. Mereka bercerita tentang banyak hal, kecuali persegi. Kebersamaan membuat mereka saling jatuh cinta, mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Lalu, tiba saatnya lelaki itu membicarakan persegi dan menunjukkan seluruh miliknya yang berbentuk persegi. Ia pun menceritakan betapa ia sangat mencintai persegi. Perempuan itu marah, ia benci mendengar dan melihat semuanya.
Persegi, persegi, persegi.
Perempuan itu ingin pergi, sebab ia tidak ingin hidup dengan lelaki yang mencintai apa yang dia benci. Meskipun berat baginya kehilangan lelaki yang dicintainya.
Lelaki itu menahannya, ia berkata bahwa ia tidak bisa kehilangan perempuan itu. Tapi ia juga tidak bisa kehilangan persegi.
Bagaimana kemudian?
Apa yang harus mereka lakukan agar bisa tetap bersama?
Minggu, 24 Mei 2020
Selasa, 05 Mei 2020
Ketidakjelasan
Sudah berapa banyak rindu yang kita ucapkan?
Dan semua selalu kembali pada sepi
Bukan hanya jarak yang harus ditempuh, lebih dari itu, ada ruang yang kadang aku sendiri tak mengerti dimana batasnya--
Yang kutahu,
Aku merasa terkurung sekaligus bebas pada saat yang bersamaan
Aku tidak berkata bahwa aku bahagia
Tapi aku juga tidak bersedih
Hanya karena sebait kenangan yang membuatku tersenyum mengingatnya
Bagaimana dengan kamu?
Aku tahu, kota ini tak pernah benar-benar merekam cerita kita
Ceritamu, ada di kota lainnya.
Barangkali kita hanya angin lalu
Yang kebetulan dipertemukan
Atau
Waktu memaksa kita hanya untuk saling merindukan
Senin, 04 Mei 2020
Nak, perpisahan itu apa?
Seperti apa perasaan setelah perpisahan itu?
Barangkali hanya perasaan sedih yang sementara, untukku sendiri tapi.
Lalu bagaimana untukmu, nak?
Kau begitu bahagia bertemu dengannya, ayahmu.
Kau memeluknya tanpa perasaan asing.
Nak, apa kau juga akan bersedih sementara seperti aku?
Atau selamanya?
Atau kau akan marah pada keadaan?
Perpisahan, kenapa begitu rumit dan menakutkan?
