Rabu, 13 Maret 2019

YANG KUTAHU CUMA RINDU

Diposting oleh Catatan Angin di 21.00 0 komentar

Aku selalu melihat kamu dari balik layar itu
Memposting gambar dan kesibukan kesibukan lain.

Tapi aku tak pernah menemukan kabar tentangmu, apa kamu baik-baik saja?
Barangkali kamu terluka setelah aku pergi.
Atau kamu baik-baik saja? Sebab cinta kita begitu cepat selesai.

Aku selalu melihat kamu dari balik layar itu,
Membaca cerita yang kau tulis dan berharap menjadi bagian dari cerita itu.
Tapi aku lebih sering menemukan cerita tentang hal lain yang tidak aku mengerti.

Aku selalu melihat kamu dari balik layar itu,
Sebab hanya itu yang mampu mengobati rindu.

Aku tak pernah punya alasan kenapa aku harus bertanya kabar. Apalagi untuk menemuimu. Meski terkadang, aku selalu mencari alasan untuk bertemu dengamu.

Pertemuan itu selalu singkat, sebab tidak ada hal yang mesti kita bicarakan. Kita selalu saja terdiam. Sebenarnya aku ingin lebih, sebab ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Tentang nomorku yang tersimpan di ponselmu, tentang cerita bergambarmu, tentang kenangan, atau rindu yang barangkali kau rasakan diam-diam.

Namun, pertemuan tidak menyembuhkan rindu sepenuhnya. Pertemuan hanyalah jalan menuju rindu yang lain, yang barangkali lebih besar.

Namun aku cukup tahu diri.

Dan rindu ini, biar menjadi milikku saja.

Jumat, 19 Oktober 2018

SURGA KECIL

Diposting oleh Catatan Angin di 02.11 0 komentar

Selama 27 tahun ia hidup, tak pernah sekalipun bertanya kenapa ia harus lahir, dibesarkan, dan tinggal bersama keluarga yang berbeda-beda.

Bukan tidak ingin bertanya, tetapi setiap jawaban selalu membuatnya murung. Sejarah kadang bisa diubah, tergantung siapa yang bercerita. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak mencari tahu, atau pura-pura tidak peduli lagi pada masa kecilnya itu. Masa lalu, seringkali membuat kita sakit hati.

Ada banyak kecemasan di dunia ini. Begitupun dengan perempuan itu, tentu saja, ia cemas akan masa depan, bahwa keluarga yang berbeda-beda itu akan menanggalkannya. Sebab perempuan itu merasa dirinya bukan siapa-siapa, ia merasa dirinya hanyalah orang lain. Ia takut kehilangan, dan takut tak punya tempat pulang.

Suatu hari, perempuan itu bermimpi membangun sebuah keluarga baru yang akan membawanya pergi dari kecemasan itu. Sebuah keluarga kecil yang akan menyelamatkannya dari perasaan sendirian.

Beberapa saat, perempuan itu tersadar, ia tak ingin bergantung pada yang lain. Ia ingin bahagia dengan caranya sendiri.

Tetapi sebuah keluarga adalah surga kecil yang ia impikan, dimana perempuan itu bisa bahagia di dalamnya. Memiliki suami yang baik hati dan anak-anak yang lucu. Dan lebih dari itu, ia ingin memiliki tempat pulang.

Setiap hari ia berdoa, seorang laki-laki akan menyelamatkannya dari kecemasan, dari kehidupan yang membingungkan itu.

Kamis, 27 September 2018

ORANG ASING

Diposting oleh Catatan Angin di 00.22 0 komentar

Aku ingin menjadi orang asing yang kau temui dalam mimpi

Aku ingin menjadi orang asing yang kau kenang suatu hari nanti

Aku ingin menjadi orang asing yang kau rindui saat sepi

Aku hanya ingin menjadi orang asing
yang pernah kau cintai ---

Minggu, 23 September 2018

Mencemburui Gambar

Diposting oleh Catatan Angin di 13.20 0 komentar

Seringkali, aku cemburu pada sebuah gambar atau potret bahagia yang kamu bagikan. Bahkan aku bisa saja cemburu pada gambar yang abstrak.

Seperti pada sebuah potret yang kamu bagikan tempo hari, kamu menjelaskan bahwa kamu sedang berada di sebuah cafe.

Di dalam potret itu, aku melihat dua cangkir kopi dan tangan perempuan. Itu hanya dugaanku. Sebab samar-samar aku melihat motif renda dibajunya.

Potret itu, terlalu abstrak untuk ku artikan.

Kemudian kepalaku mengirimkan setumpuk pertanyaan yang kuterka sendiri jawabannya.

Aku tidak akan pernah bertanya, siapakah yang bersamamu saat ini? Tidak, aku tidak sepicisan itu.

Ah, siapa aku ini? Hanya orang asing yang cemburu pada hal-hal remeh semacam itu.

Aku menunggu kamu membagikan potret abstrak berikutnya.

Dan biarkan aku cemburu pada sebuah gambar. Sebab aku senang menerka meski itu sedikit menyakitiku.

Setidaknya, itu adalah latihan sampai kamu membagikan potret bahagia yang sesungguhnya.

Senin, 02 April 2018

Mencintai dan Menikahi

Diposting oleh Catatan Angin di 06.00 0 komentar

Pernikahan, adalah adat yang diciptakan,
yang memaksa kita untuk mengikuti alurnya.
Pernikahan, hanya sebatas menghabiskan waktu
dengan seseorang yang dikirim Tuhan, yang barangkali kita sendiri tidak memilihnya.

Tapi Cinta tidak pernah mengenal adat.
Ia selalu mengikuti kata hati.
Ada, tanpa diminta.
Cinta, tidak pernah memaksa dengan siapa kita harus bersama.

Aku tidak menemukan persamaan
antara mencintai dan menikahi.
Kecuali, keduanya sama-sama menyisakan
perasaan kehilangan.

Beruntunglah mereka yang saling mencintai, lalu Tuhan merestui.

Minggu, 24 Desember 2017

3.11.15

Diposting oleh Catatan Angin di 08.07 0 komentar

Jumat, 22 Desember 2017

Rindu

Diposting oleh Catatan Angin di 10.08 0 komentar

Air mata memenuhi jantungmu hingga sesak. Namun setetespun enggan jatuh di matamu.
Aku mengerti, barangkali semuanya terlalu dalam untuk ditangisi sendirian.
Jika kesedihan itu telah membeku, mari kita hangatkan, kasihku.
Aku yakin segala yang beku akan mencair, entah menjadi air mata atau deretan kata. Dan segala yang pecah akan kembali utuh, asalkan kau ada disini, dipelukanku.

Rindu, 17.6.16

Ulang Tahun

Diposting oleh Catatan Angin di 09.42 0 komentar

ada hari yang mesti dirayakan
meski hanya dengan sebait puisi
tentang usia,
harapan,
atau waktu
ada hari yang mesti dirayakan
meski hanya dengan sebuah pelukan
atau sekedar ucapan selamat
selebihnya, dicintai olehmu disisa tahun ini,
adalah sebenar-benar hadiah
yang paling membahagiakan
untukku

0103

Dua Titik

Diposting oleh Catatan Angin di 09.35 0 komentar

Aku menyukai langit senja. Ia seperti lembar penutup sebuah catatan bisu.
Mungkin warnanya tidak sebiru langitmu yang menenangkan.
Tetapi lihatlah warna senja, kau akan menemukan waktu yang berlari, dan kita seumpama dua titik yang menyaksikan perpindahan itu. Waktu dimana petang beranjak menjadi malam.
Dan malam bukan lagi cerita kelam, meski terkadang menyisakan sebuah perpisahan.
Tapi kau tahu, di bawah langit senja itu, aku menemukan cerita untuk menutup hari, seperti sebuah percakapan, ketika semua menjadi sunyi, ketika semua telah beranjak pergi.

September 2015

Kupandangi

Diposting oleh Catatan Angin di 09.35 0 komentar

Aku membaca hujan
Membaca puisi
Membaca hari dan sunyi
Membacamu,
Membaca semua milikmu, dan
Segala yang bukan milikku...

September, 2015

 

CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review