Aku ingin menjadi orang asing yang kau temui dalam mimpi
Aku ingin menjadi orang asing yang kau kenang suatu hari nanti
Aku ingin menjadi orang asing yang kau rindui saat sepi
Aku hanya ingin menjadi orang asing
yang pernah kau cintai ---
Angin; Hanya ingin berbicara tetapi selalu luput dalam kata-kata. Dingin menjadi isyarat.
Aku ingin menjadi orang asing yang kau temui dalam mimpi
Aku ingin menjadi orang asing yang kau kenang suatu hari nanti
Aku ingin menjadi orang asing yang kau rindui saat sepi
Aku hanya ingin menjadi orang asing
yang pernah kau cintai ---
Seringkali, aku cemburu pada sebuah gambar atau potret bahagia yang kamu bagikan. Bahkan aku bisa saja cemburu pada gambar yang abstrak.
Seperti pada sebuah potret yang kamu bagikan tempo hari, kamu menjelaskan bahwa kamu sedang berada di sebuah cafe.
Di dalam potret itu, aku melihat dua cangkir kopi dan tangan perempuan. Itu hanya dugaanku. Sebab samar-samar aku melihat motif renda dibajunya.
Potret itu, terlalu abstrak untuk ku artikan.
Kemudian kepalaku mengirimkan setumpuk pertanyaan yang kuterka sendiri jawabannya.
Aku tidak akan pernah bertanya, siapakah yang bersamamu saat ini? Tidak, aku tidak sepicisan itu.
Ah, siapa aku ini? Hanya orang asing yang cemburu pada hal-hal remeh semacam itu.
Aku menunggu kamu membagikan potret abstrak berikutnya.
Dan biarkan aku cemburu pada sebuah gambar. Sebab aku senang menerka meski itu sedikit menyakitiku.
Setidaknya, itu adalah latihan sampai kamu membagikan potret bahagia yang sesungguhnya.
Pernikahan, adalah adat yang diciptakan,
yang memaksa kita untuk mengikuti alurnya.
Pernikahan, hanya sebatas menghabiskan waktu
dengan seseorang yang dikirim Tuhan, yang barangkali kita sendiri tidak memilihnya.
Tapi Cinta tidak pernah mengenal adat.
Ia selalu mengikuti kata hati.
Ada, tanpa diminta.
Cinta, tidak pernah memaksa dengan siapa kita harus bersama.
Aku tidak menemukan persamaan
antara mencintai dan menikahi.
Kecuali, keduanya sama-sama menyisakan
perasaan kehilangan.
Beruntunglah mereka yang saling mencintai, lalu Tuhan merestui.
Air mata memenuhi jantungmu hingga sesak. Namun setetespun enggan jatuh di matamu.
Aku mengerti, barangkali semuanya terlalu dalam untuk ditangisi sendirian.
Jika kesedihan itu telah membeku, mari kita hangatkan, kasihku.
Aku yakin segala yang beku akan mencair, entah menjadi air mata atau deretan kata. Dan segala yang pecah akan kembali utuh, asalkan kau ada disini, dipelukanku.
Rindu, 17.6.16
ada hari yang mesti dirayakan
meski hanya dengan sebait puisi
tentang usia,
harapan,
atau waktu
ada hari yang mesti dirayakan
meski hanya dengan sebuah pelukan
atau sekedar ucapan selamat
selebihnya, dicintai olehmu disisa tahun ini,
adalah sebenar-benar hadiah
yang paling membahagiakan
untukku
0103
Aku menyukai langit senja. Ia seperti lembar penutup sebuah catatan bisu.
Mungkin warnanya tidak sebiru langitmu yang menenangkan.
Tetapi lihatlah warna senja, kau akan menemukan waktu yang berlari, dan kita seumpama dua titik yang menyaksikan perpindahan itu. Waktu dimana petang beranjak menjadi malam.
Dan malam bukan lagi cerita kelam, meski terkadang menyisakan sebuah perpisahan.
Tapi kau tahu, di bawah langit senja itu, aku menemukan cerita untuk menutup hari, seperti sebuah percakapan, ketika semua menjadi sunyi, ketika semua telah beranjak pergi.
September 2015
Aku membaca hujan
Membaca puisi
Membaca hari dan sunyi
Membacamu,
Membaca semua milikmu, dan
Segala yang bukan milikku...
September, 2015
Rindu adalah sekumpulan sepi yang diam-
Tak beranjak
Seperti yang selalu kupandangi, di langit-langit kamar ini
Terlebih pada malam-malam panjang
Tidak ada apapun, kecuali ruang dan bayang-bayang
Tidak ada lagu, sebab yang kudengar hanyalah suara nafasku sendiri
Jika rindu adalah ruang, maka dengan siapakah ruang itu mesti kutinggali?
Sedang kamu sudah jauh pergi
Dan aku masih disini, menulis sajak-sajak sepi
HAI, PENYAIR!
Oleh Royhanatul Fauziah
hai penyair!
matamu setenang danau
aku seperti melihat teratai yang melambai ke arahku
tapi aku tak cukup berani untuk menyelaminya
karena matamu terlalu dalam
dan aku takut tenggelam
kemudian mencintaimu
hai penyair!
matamu setenang danau
aku pernah melihat gelombang kecil
yang disebabkan kecipak ikan-ikan yang mengintip ke udara
tapi aku tak cukup berani untuk membendungnya
karena matamu terlalu luas
dan aku takut kehabisan napas
kemudian mati di pelukmu
2013
[Edited 2017]
CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review