Rasa itu datang lagi..
Sedih tanpa sebab.
Tiba-tiba ada perasaan sakit hati dan ingin menangis.
Dari mana asalnya?
Padahal hari ini semuanya baik-baik saja.
Arsip Blog
Pengikut
Entri Populer
-
KEBUN MAWAR DAN KEINDAHANNYA Samarang, Garut. Jawa Barat Oleh : Royhanatul Fauziah Hai.. Apa kabar..?? udah lama nih ga nge’blo...
-
sepi bagaikan api dan kau adalah bara yang menambah gersang kesepianku yang malang Agustus 2013
-
angin yang berhembus menambah semarak lambai mawar-mawar di taman dan biarlah duri itu tetap pada tangkainya, sayang karena aku kelopak m...
-
PERPISAHAN Oleh : Royhanatul Fauziah Setiap kali aku melewati dermaga itu, aku selalu teringat pada wajahmu yang selalu berpeluh,...
-
KARMA Oleh : Royhanatul Fauziah Jujur saja, malam ini aku seperti ditikam kenangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat waja...
-
PERCAKAPAN MALAM Kita saling menunggu, diantara dinginnya malam Di jarak yang hanya dipisahkan deretan rumah dan gedung-gedung kota ...
-
JEJAK LUKA Oleh : Royhanatul Fauziah Di suatu sore yang kemuning, cahaya matahari senja merambat masuk lewat kaca jendela yang se...
Writer
Label
Jumlah Penayangan Blog CATATAN ANGIN
Selasa, 15 Oktober 2019
?
Senin, 23 September 2019
Melawan Waktu
Setiap orang pernah kecewa dan menyesali yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Mereka ingin kembali, namun siapa yang dapat mengembalikan waktu?
Beberapa diantara mereka memilih untuk diam, sebab mereka tidak ingin ada perpecahan.
Sebab, hidup harus terus berjalan seperti biasanya. Meskipun harus menahan perasaan sedih dan tidak bahagia.
Lalu, biarkan waktu yang memutuskan akan bagaimana akhirnya.
Beruntunglah mereka yang mampu melawan ketidakbahagiaannya sendiri.
Aku iri.
RF 24/09/2019
Rabu, 24 Juli 2019
Rasa Sakit
Belum tidur. Karena rasa sakit ini lebih dalam dari keinginanku untuk tidur.
Setelah sekian lama aku lupa bagaimana rasanya sakit hati, tadi pagi aku merasakan lagi.
Ternyata begini rasanya, tangan dingin dan gemetar padahal lagi di jalan, beruntung masih bisa mengendalikan motor. Aku menepi di depan toko yang masih tutup, dan menangis.
Aku menutupi wajah dengan helm agar orang-orang tidak melihat.
Hati aku sakit, bahkan sampai malam ini.
Tapi malam ini aku tidak bisa menangis. Hanya terasa sesak di dada.
Aku ingin seseorang tahu, bahwa aku tidak perlu satu katapun jika itu hanya membuat luka. Cukup diam seperti biasanya. Dan jangan peduli.
Selasa, 02 Juli 2019
Album
Dulu waktu dikasih tau kalo album nikah kita udah jadi, aku seneng banget karena akhirnya kita bisa melihat momen bahagia itu. Sayangnya dulu kita lagi gak ada uang untuk menebus albumnya.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan,... akhirnya album itu gak ketebus dan katanya albumnya jadi hangus dan akan disimpan di gudang atau dijadikan sample. Aku kecewa, tapi yaudah mungkin nanti kita bisa bikin album lagi.
Lalu 2018 kita ada uang, dan kita kasih uang itu ke photographernya, berharap album yang dulu bisa kembali lagi atau dibuatkan yang baru lagi.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan,... album itu belum datang juga.
Hingga sekarang, setelah kita berbeda, setelah kita tidak seperti dulu lagi, setelah semua pernikahan ini terasa hampa, setelah kita seperti orang asing, album itu tidak kunjung datang.
Tapi kali ini aku tidak akan menunggu lagi, bahkan aku sudah tidak peduli apakah album itu akan datang atau tidak. Karena semuanya sudah berbeda, kita tidak sebahagia seperti dalam album itu.
Senin, 06 Mei 2019
K
Pengen ngeluh..... Meski sepertinya, mau ngomong apa juga mereka ga akan ngerti.
Dulu, aku hanya kanak yang suka bermain. Ketika banyak orang tua yang mengurusku dan menganggapku anak, aku merasa bahagia.
Waktu masih kecil, aku sering dengar kabar (dari orang lain) tentang orang tua kandung dan orangtua angkat. Aku merasa belum mengerti dan tidak tahu kenapa mereka mengatakan itu.
Di umur SMA, diumur yg menurutku belum bisa berpikir dewasa, aku diberi tahu bahwa aku bukan anak kandung. Saat itu aku tahu siapa aku. Tapi itu tidak begitu saja membuatku sadar, tidak begitu saja membuatku mengerti harus bagaimana dan kemana.
Aku cuma menangis. Aku merasa bingung, aku merasa kalau aku bukan siapa2 di dua keluarga itu.
Keluarga yang mengurus dan menyayangiku sejak kecil adalah bukan siapa2, tidak ada hubungan darah denganku.
Dan keluarga kandung, adik kakak, ibu yang melahirkanku seperti asing, karena hanya bertemu ketika sudah besar.
Sebenarnya aku ingin dekat namun seperti ada batas.
Terlebih waktu bapak meninggal, kenapa mereka menyalahkan aku yang katanya "tos maot kakara datang" (sudah meninggal baru datang) padahal usiaku waktu itu masih SMP.
Kenapa harus ada kalimat seperti itu? Padahal saat itu aku gatau bahwa beliau adalah bapak kandungku.
Malah kesedihanku masih terasa sampai sekarang, karena aku tidak pernah sempat mengungkapkan bahwa aku menyayanginya sebagai ayah kandung. Jika sempat dan pada saat itu aku diberi tahu, aku akan mengatakan "Aku tahu ayah adalah ayah kandungku, aku menyayangi ayah".
Pernah suatu hari, aku merasa ditekan oleh satu kewajiban yang tidak kumengerti. Aku merasa dituntut.
Bukan aku tidak ingin melakukannya. Aku hanya merasa malu untuk berada diantara mereka. Kadang-kadang aku merasa tidak dianggap. Bahkan aku pernah mendengar bahwa aku akan dihapus dari anggota keluarga itu entah karena apa alasan apa.
Apa salahku?
Bukan mauku ada di posisi seperti ini.
Sebab bagaimanapun, aku harus menyayangi kedua keluargaku.
Ketika seseorang berniat menghapusku dari daftar keluarga, apa aku masih pantas berada disana?
Siapa aku? Kenapa harus aku? Hingga aku harus diposisi seperti ini.
Merasa tidak dianggap, merasa disalahkan.
Tidak ada orang tua kandung yang ingin menghapus anaknya dari daftar keluarga. Terlebih aku yang tidak tahu kenapa sejak bayi aku ada di keluarga ini?
Meski orangtua angkatku tidak ada ikatan darah denganku, mereka tidak pernah menyindir, tidak pernah menyalahkan, meski aku salah. Tidak pernah menuntut.
Tapi disana, kenapa aku selalu merasa disalahkan? Bukankah aku juga anaknya?
Aku muak.
Rasanya aku ingin pergi. Aku tidak ingin ada disini. Aku ingin menjauh dari semua ini.
6 Mei 2016
Rabu, 13 Maret 2019
YANG KUTAHU CUMA RINDU
Aku selalu melihat kamu dari balik layar itu
Memposting gambar dan kesibukan kesibukan lain.
Tapi aku tak pernah menemukan kabar tentangmu, apa kamu baik-baik saja?
Barangkali kamu terluka setelah aku pergi.
Atau kamu baik-baik saja? Sebab cinta kita begitu cepat selesai.
Aku selalu melihat kamu dari balik layar itu,
Membaca cerita yang kau tulis dan berharap menjadi bagian dari cerita itu.
Tapi aku lebih sering menemukan cerita tentang hal lain yang tidak aku mengerti.
Aku selalu melihat kamu dari balik layar itu,
Sebab hanya itu yang mampu mengobati rindu.
Aku tak pernah punya alasan kenapa aku harus bertanya kabar. Apalagi untuk menemuimu. Meski terkadang, aku selalu mencari alasan untuk bertemu dengamu.
Pertemuan itu selalu singkat, sebab tidak ada hal yang mesti kita bicarakan. Kita selalu saja terdiam. Sebenarnya aku ingin lebih, sebab ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Tentang nomorku yang tersimpan di ponselmu, tentang cerita bergambarmu, tentang kenangan, atau rindu yang barangkali kau rasakan diam-diam.
Namun, pertemuan tidak menyembuhkan rindu sepenuhnya. Pertemuan hanyalah jalan menuju rindu yang lain, yang barangkali lebih besar.
Namun aku cukup tahu diri.
Dan rindu ini, biar menjadi milikku saja.
Jumat, 19 Oktober 2018
SURGA KECIL
Selama 27 tahun ia hidup, tak pernah sekalipun bertanya kenapa ia harus lahir, dibesarkan, dan tinggal bersama keluarga yang berbeda-beda.
Bukan tidak ingin bertanya, tetapi setiap jawaban selalu membuatnya murung. Sejarah kadang bisa diubah, tergantung siapa yang bercerita. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak mencari tahu, atau pura-pura tidak peduli lagi pada masa kecilnya itu. Masa lalu, seringkali membuat kita sakit hati.
Ada banyak kecemasan di dunia ini. Begitupun dengan perempuan itu, tentu saja, ia cemas akan masa depan, bahwa keluarga yang berbeda-beda itu akan menanggalkannya. Sebab perempuan itu merasa dirinya bukan siapa-siapa, ia merasa dirinya hanyalah orang lain. Ia takut kehilangan, dan takut tak punya tempat pulang.
Suatu hari, perempuan itu bermimpi membangun sebuah keluarga baru yang akan membawanya pergi dari kecemasan itu. Sebuah keluarga kecil yang akan menyelamatkannya dari perasaan sendirian.
Beberapa saat, perempuan itu tersadar, ia tak ingin bergantung pada yang lain. Ia ingin bahagia dengan caranya sendiri.
Tetapi sebuah keluarga adalah surga kecil yang ia impikan, dimana perempuan itu bisa bahagia di dalamnya. Memiliki suami yang baik hati dan anak-anak yang lucu. Dan lebih dari itu, ia ingin memiliki tempat pulang.
Setiap hari ia berdoa, seorang laki-laki akan menyelamatkannya dari kecemasan, dari kehidupan yang membingungkan itu.
Kamis, 27 September 2018
ORANG ASING
Aku ingin menjadi orang asing yang kau temui dalam mimpi
Aku ingin menjadi orang asing yang kau kenang suatu hari nanti
Aku ingin menjadi orang asing yang kau rindui saat sepi
Aku hanya ingin menjadi orang asing
yang pernah kau cintai ---
Minggu, 23 September 2018
Mencemburui Gambar
Seringkali, aku cemburu pada sebuah gambar atau potret bahagia yang kamu bagikan. Bahkan aku bisa saja cemburu pada gambar yang abstrak.
Seperti pada sebuah potret yang kamu bagikan tempo hari, kamu menjelaskan bahwa kamu sedang berada di sebuah cafe.
Di dalam potret itu, aku melihat dua cangkir kopi dan tangan perempuan. Itu hanya dugaanku. Sebab samar-samar aku melihat motif renda dibajunya.
Potret itu, terlalu abstrak untuk ku artikan.
Kemudian kepalaku mengirimkan setumpuk pertanyaan yang kuterka sendiri jawabannya.
Aku tidak akan pernah bertanya, siapakah yang bersamamu saat ini? Tidak, aku tidak sepicisan itu.
Ah, siapa aku ini? Hanya orang asing yang cemburu pada hal-hal remeh semacam itu.
Aku menunggu kamu membagikan potret abstrak berikutnya.
Dan biarkan aku cemburu pada sebuah gambar. Sebab aku senang menerka meski itu sedikit menyakitiku.
Setidaknya, itu adalah latihan sampai kamu membagikan potret bahagia yang sesungguhnya.
Senin, 02 April 2018
Mencintai dan Menikahi
Pernikahan, adalah adat yang diciptakan,
yang memaksa kita untuk mengikuti alurnya.
Pernikahan, hanya sebatas menghabiskan waktu
dengan seseorang yang dikirim Tuhan, yang barangkali kita sendiri tidak memilihnya.
Tapi Cinta tidak pernah mengenal adat.
Ia selalu mengikuti kata hati.
Ada, tanpa diminta.
Cinta, tidak pernah memaksa dengan siapa kita harus bersama.
Aku tidak menemukan persamaan
antara mencintai dan menikahi.
Kecuali, keduanya sama-sama menyisakan
perasaan kehilangan.
Beruntunglah mereka yang saling mencintai, lalu Tuhan merestui.
