Tapi rupanya, perjalanan kita terlalu singkat untuk ditulisan ke dalam sebuah cerita.
Jadi kutulis kisah itu hanya dalam potongan-potongan cerita saja.
Angin; Hanya ingin berbicara tetapi selalu luput dalam kata-kata. Dingin menjadi isyarat.
Maaf kemarin aku menulis tentang siapa yang terluka. Kemarin aku hanya merasa menjadi manusia paling terluka.
Sebab setelah kamu pergi, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tak ada ucapan selamat pagi, perhatian, atau sekedar menanyakan anakku sedang apa?
Tapi tak apa, aku sudah terbiasa dengan sepi.
Aku tidak ingin lagi menebak siapa yang paling terluka, seperti dulu aku selalu menebak siapa yang paling sayang.
Aku tahu kita punya luka masing-masing.
Aku memang terluka dan menangis. Mungkin kamu tidak menangis, tapi bukan berarti kamu tidak terluka, mungkin juga kamu hanya sedikit terluka? Atau malah tidak terluka sama sekali?
Ah, aku menebak-nebak lagi. Maaf. Kepalaku memang selalu dipenuhi prasangka.
Entahlah. Atau aku hanya berusaha untuk tidak peduli.
Tentang kemarin itu, aku sama sekali tidak marah. Aku juga tidak kecewa.
Jangan khawatir. Tidurku normal, hanya sulit makan saja. Hidupku baik-baik saja. Aku bekerja seperti biasanya, meski terkadang aku menghela nafas panjang sambil memukul-mukul dada jika terasa sesak karena sakit mengingatnya.
Tapi aku tidak ingin kamu terluka sepertiku. Jika kamu bahagia, berbahagialah. Dan terimakasih untuk tidak menunjukkan kebahagiaan itu di depanku.
Tentang luka itu, seperti yang sering kita berdua katakan, "Nanti juga terbiasa lagi..".
Ingatkah kau, saat dalam perjalanan sepulang dari Bandung, aku bertanya; "Lebih baik memutuskan atau diputuskan?" Dan kau memilih diputuskan karena dengan begitu, kamu merasa tidak akan terbebani dengan perasaan bersalah seperti jika kamu memilih memutuskan.
Aku sendiri tidak tahu harus memilih apa, sebab bagiku, memutuskan atau diputuskan sama sakitnya.
Aku bertanya bukan tanpa maksud.
Aku bertanya karena aku tahu, suatu saat entah kapan, kita akan berpisah. Dan aku ingin tahu caramu menanggapi sebuah perpisahan.
Dan kemarin, kita berpisah.
Siapa yang memutuskan, aku tidak tahu. Yang pasti aku sangat terluka. Kupikir, kamu tidak seterluka itu, sebab kamu masih memiliki seseorang yang selalu ada di sampingmu. Membuatmu tersenyum. Menemani harimu.
Setidaknya, kamu tidak sendirian.
Akhirnya kita berpisah
Maaf, aku tidak bisa terluka lagi
Jadi, aku memintamu meninggalkanku karena sebenarnya aku tidak bisa meninggalkanmu
Aku tidak tahu siapa yang melepaskan siapa
Meski pada akhirnya aku merasa kamulah yang melepaskanku
Tak apa, sejak semula aku sudah rela
Meskipun aku masih merasa sedikit terluka
Jangan berkata bahwa kamu masih ada
Jangan berkata bahwa kamu tidak pergi dan melihatku dari jauh. Aku benci kalimat itu!
Karena nyatanya kamu sudah tidak ada.
Kupikir, aku juga harus melepaskanmu
Menghapus semua tentangmu
Jadi aku menghapus akun bayanganmu dan nomor kontakmu
Kau tahu bagaimana rasanya meminta untuk dilepaskan padahal sebenarnya tidak ingin?
28 01 20
Apakah lebih baik, jika sejak semula kita tidak pernah memulai saja?
Tapi aku bahagia denganmu
Hanya saja, aku takut jika pada akhirnya hanya menyisakan kehampaan
Aku masih takut kehilanganmu
Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya
Sebab perasaanku selalu terbatas untuk diungkapkan. Kau mengerti, kita tidak saling memiliki. Kita saling berpelukan namun perasaan kita hanya sebatas rindu dan rindu saja.
Sesekali, aku merasa dicintai. Sesekali juga aku kehilangan cinta itu sendiri.
Akankah lebih baik, jika sejak semula kita tidak pernah memulai saja?
Sebab aku takut lebih terluka, atau melukaimu.
17120
Sepertinya tadi ada puisi yang terlintas saat ingatan tentangmu hadir sekejap.
Namun aku lupa menuliskannya karena ingatan itu terlalu dalam dan panjang.
Ah, sudah selarut ini.
Sepertinya aku ingin segera menuliskannya agar menjadi puisi yang romantis.
Namun aku hanya mampu menulis satu kata saja.
Rindu.
Lalu apa?
Hening kembali.
Kupikir, sudah lama aku tidak menerjemahkan kata itu.
Sebenarnya, aku sering merasakannya lalu akhirnya kubiarkan saja.
Sebab rindu itu menjadi menyakitkan saat aku tahu bagaimana cara memulihkannya namun aku tidak bisa melakukannya.
Sebenarnya aku ingin duduk di sampingmu
Sambil menggenggam tanganmu
Atau menatap wajahmu sesekali
Melalui jendela ini kusimpan kenangan
dan keinginan itu
Aku tahu,
Kenangan, tak harus tentang wajah seseorang
Aku suka duduk manis di belakang, memandangimu..
Meski hanya sebatas punggungnya saja
Beberapa waktu lalu, lagi suka nonton film drama romantis seperti Me Before You, Silver Linnings Playbook, Her, dll. Semua drama itu kisahnya SAD ENDING. Ditinggal pergi.
Selama nonton itu, terlihat mereka pasangan yang saling mencintai dan takut kehilangan. Aku merasa mereka adalah pasangan yang tak terpisahkan, yang jika kehilangan salah satunya maka hidupnya tidak mudah lagi.
Tapi ternyata tidak, sepeninggal orang yang dicintai, hidup mereka tetap berjalan seperti biasanya. Berarti perasaan takut kehilangan itu cuma sementara karena mereka belum benar-benar merasa kehilangan. Dan setelah kehilangan... Yasudah. Hidup normal. Semudah itu.
Aku coba membayangkan momen itu ke dalam hidup aku, tapi tidak mudah. Masih ada perasaan takut. Mungkin karena dia masih ada. Entah setelah dia benar-benar pergi, aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi.
Aku tidak ingin merasakan takut dan sakit. Tapi aku ingin benar-benar hidup layaknya orang pada umumnya.
Diantara semua tanda baca, aku tidak ingin titik untuk mengakhiri cerita kita. Sebab, aku tidak suka memikirkan akhir.
Aku takut akhir yang menyedihkan.
Tapi akhir yang bahagia? Apakah mungkin?
Aku ingin tanda tanya saja, agar pertanyaan-pertanyaan tentang kita tak pernah usai, dan kita tak berhenti saling mencari, saling merindukan. Bukankah rindu juga tak pernah usai?
Sedih dan bahagia hanya pilihan. Kau bebas memilih apa. Tapi bisakah aku memilih untuk mencintaimu selamanya?
Desember, 2019
Seperti yang pernah kutulis sebelumnya,
"Aku bisa menahan rindu, tapi tak bisa menahan cemburu".
Selalu kutulis begitu, sebab rindu masih sanggup kusimpan seberapa lamapun itu. Namun cemburu tidak bisa kutahan meski dalam satu detik saja.
Aku cemburu pada hal yang tidak seharusnya. Tapi sewajarnya aku cemburu, sebab kamu sudah terlanjur hadir, di tengah hari-hariku yang hampa dan kamu datang memberi warna.
Benar katamu, cinta memang sulit dimengerti. Tapi serumit apapun, bagiku cinta masih mampu diungkapkan. Setidaknya, cinta memberi setitik senyum, meski tak saling memiliki.
Sedangkan perasaan cemburu.. Ia ada, tapi tak bisa diungkapkan, tak bisa dikendalikan, yang ada hanya perasaan sesak. Sebab aku merasa tidak berhak.
Sebenarnya malam ini aku tidak bisa tidur.
Aku rindu. Rindu seperti kemarin itu---
Tapi cemburu mengendalikan hatiku lebih dari apapun.
Aku berpikir untuk menghindarimu hari ini.
Aku takut mengganggu kebahagiaanmu.
Aku takut membebanimu.
911
CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review