Sepasang kekasih diertemukan untuk saling mencintai dan melengkapi
Namun ada kalanya sepasang kekasih dipertemukan untuk saling melupakan
tanpa sempat memiliki.
Angin; Hanya ingin berbicara tetapi selalu luput dalam kata-kata. Dingin menjadi isyarat.
Sepasang kekasih diertemukan untuk saling mencintai dan melengkapi
Namun ada kalanya sepasang kekasih dipertemukan untuk saling melupakan
tanpa sempat memiliki.
Suatu hari, kau pernah bertanya padaku, apakah mungkin seseorang mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan?
Ya. Mungkin saja, kenapa tidak.
Jadi maksudmu, kau bisa mencintaiku juga mencintai yang lain selain aku?
Ya, bukan hal yang tidak mungkin jika aku mencintai dua orang dalam waktu yang sama. Aku mencintaimu, juga mencintai seseorang yang lain. Sebut saja kekasih yang lain.
Caranya? Bagaimana caramu mencintai dua orang dalam waktu yang sama? Bahkan aku selalu di sampingmu, dan aku tidak merasa kau sedang mencintai seseorang selain aku.
Kau tidak tahu saja, bahwa ingatan perempuan itu lebih berbahaya dari apapun yang kau miliki.
Aku tidak mengerti. Kau perempuan. Apakah mungkin kau membagi waktu dan tubuhmu dengan seseorang selain aku?
Kau tahu, cinta tidak melulu tentang tubuh, tidak juga tentang pertemuan, atau tentang keinginan saling memiliki.
Lalu?
Aku mencintaimu karena kau ada, karena kau mencintaiku juga. Dan aku mencintai kekasihku yang lain sebab ia selalu ada dalam ingatanku.
Bagaimana jika seseorang dalam ingatan itu muncul di hadapanmu?
Jika aku bisa mencintai dua orang dalam waktu yang sama, bukan berarti aku bisa membawa keduanya dalam hidupku.
Kalimatmu selalu membuatku bingung.
Maksudku, jika aku mencintai dua orang, maka aku akan menyimpan salah satunya hanya dalam ingatan. Aku tidak bisa membagi semua hidupku untuk dua orang. Maka, aku akan meninggalkan salah satu demi yang lainnya.
Jika dia datang, kau lebih memilih siapa?
Tentu saja kamu, yang kini ada dalam hidupku. Tapi jangan salahkan aku, jika ia tetap ada dalam ingatanku.
Aku cemburu pada ingatanmu.
Kau berhak untuk cemburu.
Lalu apa yang bisa kulakukan, agar aku bisa menghilangkannya dari ingatanmu?
Tidak ada. Kau bisa menghilangkan semua lelaki dalam hidupku, tapi kau tidak bisa menghilangkan satu orang dalam ingatanku.
Kalau begitu, kau harus memilih dia, dan biarkan aku yang pergi agar aku yang ada dalam ingatanmu.
Benarkah? Artinya kita tidak bisa bersama lagi.
Jika kita tidak bersama lagi, apakah aku akan hidup dalam ingatanmu?
Belum tentu.
Lalu kenapa dia bisa ada dalam ingatanmu sedang aku tidak?
Aku tidak tahu.
Apakah dia terlalu berarti?
Aku tidak tahu.
Aku tidak mengerti. Jika memang dia berarti untukmu, kenapa kau memilihku? Dan jika ia selalu ada dalam ingatanmu, kenapa harus ada aku di sampingmu?
Sebab aku mencintaimu. Tidakkah itu cukup?
Tapi kau juga mencintainya.
Ya, hanya dalam ingatan.
Tetap saja, aku cemburu. Aku tidak rela. Aku ingin hidupmu, ingatanmu, hanya tentang aku. Tapi aku juga tidak ingin pergi darimu hanya karena aku ingin kau selalu mengingatku.
Kalau begitu, jangan pergi. Tidakkah kau ingin aku mencintaimu dalam kehidupan nyata?
Aku ingin. Hanya saja aku sedikit tidak rela.
Masa lalu memang selalu menjadi mimpi buruk. Maka jika kau membencinya, kau harus mencintai seseorang yang tidak memiliki masa lalu sepertiku. Kau harus menjadi kesan bagi seseorang.
Sekarang aku mengerti. Jika aku pergi, maka, bukan aku yang ada dalam ingatanmu, tetapi sebaliknya, kau yang akan ada dalam ingatanku. Bahkan nanti, ketika aku bersama perempuan lain.
Lalu, apa kau akan pergi?
Tidak. Aku tidak ingin mencintaimu hanya dalam ingatan. Itu menyakitkan. Mencintai seseorang yang tak bisa kita miliki lebih menyakitkan dari kehilangan itu sendiri.
Aku beruntung memilikimu, sebab aku akan menjadi seseorang yang akan selalu kau ingat suatu hari nanti.
Tetapi menyakitkan bagiku, sebab tak ada aku dalam ingatanmu.
Suatu hari nanti, kau pun akan menjadi satu-satunya, dalam hidupku dan ingatanku.
Bagaimana caranya? Sedangkan saat ini kau memiliki kekasih dalam ingatan yang tidak bisa kamu lupakan?
Hanya waktu yang akan menghapusnya, dan cintamu yang tulus akan membuatku lupa akan ingatan itu.
Entah kenapa, meski terkadang menyakitkan, aku selalu mencintai caramu berpikir, caramu berbicara, dan caramu mencintaiku.
Jika senja telah tiba, semua akan berubah. Satu per satu, waktu kan mengambilnya dariku, dan aku takut hatiku menjadi kosong.
Namun aku percaya, kenangan itu masih tetap ada. Ia tersimpan manis dalam ingatan, atau dalam buku harian yang kusam. Kupikir, hanya itu satu-satunya hal yang mampu membuatku tersenyum.
Jika senja telah tiba, akankah kau ada disampingku? Ataukah aku yang tiada, dan kau bahagia menatap senja dengan seseorang yang lain?
Garut, 6/3/20
Katanya, aku lahir tanggal 1 Maret 1992.
Tapi sejarah lain mengatakan aku lahir 5 Mei 1995.
Tapi kalau aku lahir thn 1995, berarti lulus SMA 2010 umur 15 thn? Kalau aku lahir thn 1995, ga mungkin aku TK umur 2 tahun, dan lulus kuliah umur 19 tahun?
Mungkin benar aku lahir thn 1992, tapi lebih tepatnya kapan aku tidak tahu, dan tidak ingin menanyakan lagi tentang sejarah itu, karena akan panjang.
Tapi aku bertemakasih pada orangtua yang sudah melahirkanku dan orangtua yang sudah membesarkanku sampai sekarang.
Kadang, aku bertanya-tanya, diantara aku dan saudara kembarku, kenapa harus aku yang diberikan?
Tapi seseorang pernah berkata, Allah memilihku karena Allah percaya aku mampu. Padahal Allah bisa saja memilih kembaranku pada saat itu.
Aku tidak menyesal dibesarkan di keluarga ini. Malah aku bersyukur, karena kata mereka, aku jadi punya 4 orangtua. Aku juga bersyukur karena berkat keluarga ini, aku bisa merasakan bangku kuliah. Aku bisa bertemu dosen-dosen yang berilmu, bertemu teman-teman yang menyenangkan, mantan, dan orang-orang pernah menyayangiku, yang belum tentu bisa aku temui jika aku berada di keluarga itu.
Aku hanya sedih karena tidak bisa sedekat itu dengan keluarga kandungku, dengan adik, dan kakakku. Dan tidak pernah sempat menyayangi almarhum ayah dan almarhum kakakku yang ke 3.
Kadang aku iri, karena aku juga ingin merasakan kasih sayangnya seperti yang dirasakan adik dan kakakku.
Saudara-saudaraku bilang, dulu ayahku selalu bercerita tentangku, menanyakan kabarku, dan sesekali mengunjungiku. Tapi saat itu aku belum mengerti.
Saat aku sudah dewasa, aku baru mengerti tapi rasanya semuanya sudah terlambat karena ayahku sudah tidak ada.
Aku sedih karena mungkin almarhum ayahku tidak tahu, kalau saat ini aku sudah tahu bahwa aku anaknya.
Mungkin beliau juga tidak tahu bahwa aku menyayanginya meskipun aku tidak pernah dekat dengannya.
Aku rindu sekaligus merasa bersalah. Rasanya seperti rindu pada seseorang yang pernah kita sakiti hatinya padahal kita tidak sempat mencintainya.
Kenapa aku selalu merasa terluka, oleh orang-orang yang pernah atau sedang kucintai?
Padahal, aku merasa, kalau aku juga pantas bahagia tanpa seorangpun disisiku jika itu hanya melukaiku.
Kupikir, aku selalu mencintai siapapun dengan tulus tanpa pernah meminta apapun. Aku merelakan semuanya datang dan pergi begitu saja, bahkan aku lebih sering terdiam, memendam semuanya. Tapi kenapa yang datang padaku selalu membawa luka.
Tidak. Aku tidak sedang menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja, terkadang aku merasa lelah.
Aku lelah dengan perasaanku sendiri, bahwa sebenarnya aku tidak layak dicintai.
Aku bosan menulis puisi. Kadang aku selalu bingung memikirkan kata-kata yang tepat, sehingga pesan pentingnya kadang tidak tersampaikan.
Aku hanya ingin menulis saja. Tanpa metafora, tanpa kalimat-kalimat indah.
Aku tak sedang mencari alasan
Kukira dicintai tak selalu menyenangkan
Jadi sebaiknya jangan mendekat
Sebab aku tak ingin terlihat jahat
Bukan aku tak ingin dicintai
Hanya saja........
Kisah ini masih kutulis
Sebab kamu kembali
Dengan satu kata "Rindu"
Yang akupun masih menyimpannya
Namun
Mengapa aku merasa
Bahwa kisah ini hanya kujalani sendiri?
CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review