Sabtu, 18 Maret 2017

Sosok Pengganti

Diposting oleh Catatan Angin di 07.12 0 komentar

Lelaki itu harus bertanggung jawab dan bisa dipercaya untuk menggantikan sosok ayah dari perempuan yang dinikahinya.
Setiap ayah akan berpikir seandainya mereka sudah tiada, ada lelaki bertanggung jawab yang akan menggantikannya dan menjaga anak perempuannya kelak.
Kadang aku berpikir, aku ingin meninggal lebih dulu dari orang tuaku, sebab di dunia ini aku tidak ingin sendiri, atau setidaknya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi tentang aku.

Rabu, 08 Maret 2017

Sekedar Bercerita

Diposting oleh Catatan Angin di 03.22 0 komentar

Suatu hari ketika aku tersadar Tuhan telah memberiku kehidupan baru, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku siap?

Nyatanya, aku sering bersedih, aku sering mengkhawatirkan hari esok, aku sering menangis tanpa sebab. Aku sering mencaci kehidupan.

Kupikir, Tuhan mengubah hidupku terlalu cepat, hingga aku selalu menyalahkan keadaan. Namun hidup terus berjalan. Aku tidak ingin lagi memikirkan perhatian, cinta, atau kasih sayang dari mereka diluar diriku.

Sebab tak ada manusia yang benar-benar peduli selain pada dirinya sendiri.

Aku mulai mengerti, hidup bukan sekedar siap atau tidak siap. Hidup adalah tentang menjalani dan belajar menerima.

Kamis, 19 Januari 2017

KENANG-KENANGAN

Diposting oleh Catatan Angin di 01.53 1 komentar

Aku menangisi yang sengaja kutinggalkan
Pada sebuah pagi
Kita hanya sepasang lengan yang kaku
Kata-kata membeku
Tapi hatiku terus menyeru,
Aku rindu! Aku rindu!

Aku ingin memelukmu kembali
Di sepanjang jalan itu.
Seperti pada malam-malam kita yang lalu
Malam-malam kita yang ringkas
Bergegas pulang

Aku menangisi yang sengaja kutinggalkan
Pada sebuah senja
Cafe dan lagu cinta
Langit,
Ice cream, juga kenangan yang meleleh
Seperti air mataku
Aku tahu, ini akan menjadi senja terakhir kita

Lalu kita berpisah di jalan setapak itu.
Ah, betapa ingin aku mengekalkan waktu.
Memelukmu sekali lagi
Dan berkali-kali akan kukatakan
Aku sayang kamu, purnama.
Aku sayang kamu.

Aku menangisi yang sengaja kutinggalkan
Setiap malam
Matamu berpendar dalam kenangan,
Kamu, purnama yang setia menatapku dengan lembut
Melupakanmu, adalah hal yang muskil
Merindukanmu, aku lakukan setiap hari
Dan doa adalah satu-satunya jalan
Barangkali, kita akan bertemu kembali di persimpangan mimpi
Atau pada takdir yang lain---

Aku menangisimu
Sebab aku mencintaimu
Melebihi keterdiamanku
Melebihi rasa sakitmu

Puisi, 0116

Minggu, 03 Juli 2016

Mencuri Pandang

Diposting oleh Catatan Angin di 06.19 0 komentar

Suatu waktu di sebuah pertemuan. Lelaki itu sedang asik membaca bukunya, sambil sesekali menanggapi percakapan teman-teman di sekelilingnya.

Aku berada di sudut tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk.

Ia asik dengan bukunya. Aku asik mengobrol dengan teman-teman. Sambil bercanda tawa, sudut mataku tak henti mencuri pandang ke arahnya.

Bertahun saling menyapa, bertemu. Aku dan lelaki itu tak pernah berbicara lebih dalam, percakapan kita hanya sebatas diskusi kecil dan hiperbola, namun aku merasa telah mengenalnya jauh sebelum ini.

Aku masih asik dengan teman-teman. Iapun masih menggenggam bukunya.
Dan ketika teman-temanku behenti berbicara, aku duduk sendiri, lalu sepuasnya aku bisa memandanginya diam-diam, dari tempat yang barangkali tak seorangpun tahu.

Lelaki itu begitu penyendiri dan tenang, terlebih ketika sedang membaca buku. Aku suka melihat ketenangannya juga menatap matanya yang sibuk beradu dengan kata.

Duh, aku ketahuan.

Tiba-tiba matanya menatapku dengan pasti.

Kualihkan pandangan kemana saja.

Berharap ia tidak mendapatiku yang tengah mencuri pandang. Berharap ia sudah membaca bukunya kembali.

Beberapa detik, kulihat ke arahnya lagi. Namun, ia masih memandangku yang kini salah tingkah. Aku jadi malu.

Aku mengalihkan pandangan lebih jauh lagi, pura-pura membaca buku yang kebetulan ada di dalam tas, atau iseng memainkan kunci di layar ponsel.

Saat itu aku tahu, ia masih menatapku, barangkali dengan tatapan heran. Kemudian, aku kembali melihatnya, memastikan dugaanku.

Benar saja, ia masih menatapku. Sekilas kulihat ia tersenyum tipis melihat tingkahku.

Lalu mata kita saling bertemu, saling menatap entah berapa saat lamanya.

Aku tersenyum, dan tersipu malu.

Ia tersenyum kembali, kali ini bukan senyum karena melihat tingkahku yang malu-malu. Ia tersenyum, seolah ia sudah tahu semuanya, bahwa detik itu, aku telah mencintainya.

Jumat, 17 Juni 2016

Rindu

Diposting oleh Catatan Angin di 14.32 0 komentar

Air mata memenuhi jantungmu hingga sesak. Namun setetespun enggan jatuh di matamu.
Aku mengerti, barangkali semuanya terlalu dalam untuk ditangisi sendirian.
Jika kesedihan itu telah membeku, mari kita hangatkan, kasihku.
Aku yakin segala yang beku akan mencair, entah menjadi air mata atau deretan kata. Dan segala yang pecah akan kembali utuh, asalkan kau ada disini, dipelukanku.

17.6.16

Selasa, 17 Mei 2016

Diri Sendiri

Diposting oleh Catatan Angin di 10.21 0 komentar

Tak ada lagi kesunyian, namun tak lekas kumembenci malam, atau pagi yang teramat enggan untuk bangun. Kenapa selalu ada yang mesti diselami, jika bukan mereka, maka itu adalah dia, atau sebaliknya. Aku tidak lelah, aku hanya rindu bercengkrama dengan diriku sendiri.

Jumat, 22 April 2016

Tentang Pulang

Diposting oleh Catatan Angin di 02.43 0 komentar

Mungkin kau sudah lelah
Berjalan ke segala arah
Dari keluh yang jauh
Dari sesal yang kekal
Sayang, seorang perempuan
Menunggumu pulang
Ke rumah yang lekang

Sepi Menanti [CURHAT]

Diposting oleh Catatan Angin di 00.45 0 komentar
Minggu-minggu ini tidur ga teratur. Kadang tidur sejam dua jam, tidur seharian, atau tidak tidur sama sekali.
Kadang suka lupa tadi malam aku tidur atau hanya termenung?
Yang aku ingat, setiap mau tidur selalu berharap ketika aku bangun ada seseorang di sampingku sedang membaca buku atau menulis sesuatu, seseorang yang membelai rambutku, memberi pelukan.
Setidaknya seseorang yang tidak pernah membiarkanku sendirian, meski hanya dalam sebuah pesan singkat.
Karena sebenarnya aku tidak ingin sendirian.
Tapi ketika kudapati bahwa di kamar ini hanya ada aku, handphone, dan kamar yang sunyi, rasanya aku ingin kembali tidur saja, dan tidak pernah bangun lagi.
Sebab kenyataan selalu meninggalkanku.
Aku merasa tak punya siapa-siapa. Dari sekian triliyun juta jiwa di dunia, dari sekian ratus juta jiwa di indonesia, atau dari sepuluh orang di sekitarku, adakah satu orang saja yang memahamiku? Memahami isi kepalaku?

Rabu, 20 April 2016

Aku Ingin Menulis Puisi [CURHAT]

Diposting oleh Catatan Angin di 09.21 0 komentar
Untuk seseorang yang memintaku berhenti berpuisi

Jangan memintaku untuk menjadi orang lain.

Aku suka puisi, dan tidak akan pernah berhenti menulis puisi.
Jika bukan puisi, lalu kau ingin aku menulis apa?
Aku bukan orang yang suka menulis hujan dengan cara yang biasa. Mungkin orang lain bisa menulis
"hujan nih, hujannya deras banget, alhamdulillah hujan, dll".
Tapi aku tidak mau, aku akan menulis bahwa "hujan adalah air mata yang jatuh ketika rindu", atau "memandang hujan seperti berkaca pd kenangan".
Aku juga bukan orang yang menuliskan sepi dengan cara yang biasa.
Orang2 bisa menulis
"sepi nih ga ada temen, sepi di rmh ga ada siapa2, sepi stlh ditinggal pacar, dll"
TIDAK, aku tidak akan pernah menulis yg seperti itu, aku akan menulis "kesepian yang ganjil, mungkin kau harus disini menggenapkan semuanya", atau seperti kata penyair WS. Rendra, "Sepi menjadi kaca".
Aku juga tdk bisa menulis tentang malam, insomnia, rumah, taman, embun, daun, laut, kopi, luka, cinta, bahagia, dll, dengan cara yang biasa.
Aku bukan orang yang menulis segala sesuatu dengan kata yang akan mudah kau baca.
Maka biarkan aku menuliskan semuanya dengan caraku sendiri.
Jangan tentang aku.
Bukan aku tidak ingin ditentang.
Hanya saja, kau tidak mengerti apa itu puisi, apa itu sastra.
Hanya saja, kau tidak mengerti, bahwa setiap orang itu berbeda.
Aku tidak sendirian. Banyak yang sudah berumah tangga, banyak yang bahkan dia sudah tua, tapi masih menulis puisi.
Ketika seseorang menyebut tulisan2ku berlebihan, mungkin dia belum pernah membaca tulisan2 penulis perempuan seperti Langit Amaravati, Ratna Ayu Budhiarti, Leila. S. Chudori, Djenar Maesa, Dewi Lestari, dll..
Atau tulisan2 para penyair terkenal, sprti, Bpk. Sapardi Djoko Damono, W.S Rendra, Sutardji, Acep Zamzam, Edwar Maulana, Gus Mus, Agus Noor, dll.
Aku bukan penyair/penulis terkenal seperti mereka. Tapi, bacalah karya mereka, sebelum melarangku menulis puisi.
Bisa jadi, kau akan jatuh cinta pada salah satu karyanya.

Selasa, 15 Maret 2016

Sakura

Diposting oleh Catatan Angin di 11.10 0 komentar

Sakura
Sapardi Djoko Damono

Ketika hari tiba dan mengambil segala yang kau yakini milikmu, kau memang tak merasa perlu tahu bahwa aku bukan bagianmu
Bahwa akhirnya semua itu hanya merupakan deretan huruf panjang yang tidak mungkin tertangkap dalam buku-buku tebal yang sering berserakan di kamarmu

Kau bukan pangeran yang dipaksa mencintai seorang perempuan dengan sebilah keris
Bukan pangeran yang kemudian tertelungkup di hadapan Angreni

Dan kita adalah sakura yang gugur sebelum musim selesai, tak terlacak pula

SDD

 

CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review