Lelaki itu harus bertanggung jawab dan bisa dipercaya untuk menggantikan sosok ayah dari perempuan yang dinikahinya.
Setiap ayah akan berpikir seandainya mereka sudah tiada, ada lelaki bertanggung jawab yang akan menggantikannya dan menjaga anak perempuannya kelak.
Kadang aku berpikir, aku ingin meninggal lebih dulu dari orang tuaku, sebab di dunia ini aku tidak ingin sendiri, atau setidaknya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi tentang aku.
Arsip Blog
Pengikut
Entri Populer
-
KEBUN MAWAR DAN KEINDAHANNYA Samarang, Garut. Jawa Barat Oleh : Royhanatul Fauziah Hai.. Apa kabar..?? udah lama nih ga nge’blo...
-
sepi bagaikan api dan kau adalah bara yang menambah gersang kesepianku yang malang Agustus 2013
-
angin yang berhembus menambah semarak lambai mawar-mawar di taman dan biarlah duri itu tetap pada tangkainya, sayang karena aku kelopak m...
-
PERPISAHAN Oleh : Royhanatul Fauziah Setiap kali aku melewati dermaga itu, aku selalu teringat pada wajahmu yang selalu berpeluh,...
-
KARMA Oleh : Royhanatul Fauziah Jujur saja, malam ini aku seperti ditikam kenangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat waja...
-
PERCAKAPAN MALAM Kita saling menunggu, diantara dinginnya malam Di jarak yang hanya dipisahkan deretan rumah dan gedung-gedung kota ...
-
JEJAK LUKA Oleh : Royhanatul Fauziah Di suatu sore yang kemuning, cahaya matahari senja merambat masuk lewat kaca jendela yang se...
Writer
Label
Jumlah Penayangan Blog CATATAN ANGIN
Sabtu, 18 Maret 2017
Sosok Pengganti
Rabu, 08 Maret 2017
Sekedar Bercerita
Suatu hari ketika aku tersadar Tuhan telah memberiku kehidupan baru, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku siap?
Nyatanya, aku sering bersedih, aku sering mengkhawatirkan hari esok, aku sering menangis tanpa sebab. Aku sering mencaci kehidupan.
Kupikir, Tuhan mengubah hidupku terlalu cepat, hingga aku selalu menyalahkan keadaan. Namun hidup terus berjalan. Aku tidak ingin lagi memikirkan perhatian, cinta, atau kasih sayang dari mereka diluar diriku.
Sebab tak ada manusia yang benar-benar peduli selain pada dirinya sendiri.
Aku mulai mengerti, hidup bukan sekedar siap atau tidak siap. Hidup adalah tentang menjalani dan belajar menerima.
Kamis, 19 Januari 2017
KENANG-KENANGAN
Aku menangisi yang sengaja kutinggalkan
Minggu, 03 Juli 2016
Mencuri Pandang
Suatu waktu di sebuah pertemuan. Lelaki itu sedang asik membaca bukunya, sambil sesekali menanggapi percakapan teman-teman di sekelilingnya.
Aku berada di sudut tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk.
Ia asik dengan bukunya. Aku asik mengobrol dengan teman-teman. Sambil bercanda tawa, sudut mataku tak henti mencuri pandang ke arahnya.
Bertahun saling menyapa, bertemu. Aku dan lelaki itu tak pernah berbicara lebih dalam, percakapan kita hanya sebatas diskusi kecil dan hiperbola, namun aku merasa telah mengenalnya jauh sebelum ini.
Aku masih asik dengan teman-teman. Iapun masih menggenggam bukunya.
Dan ketika teman-temanku behenti berbicara, aku duduk sendiri, lalu sepuasnya aku bisa memandanginya diam-diam, dari tempat yang barangkali tak seorangpun tahu.
Lelaki itu begitu penyendiri dan tenang, terlebih ketika sedang membaca buku. Aku suka melihat ketenangannya juga menatap matanya yang sibuk beradu dengan kata.
Duh, aku ketahuan.
Tiba-tiba matanya menatapku dengan pasti.
Kualihkan pandangan kemana saja.
Berharap ia tidak mendapatiku yang tengah mencuri pandang. Berharap ia sudah membaca bukunya kembali.
Beberapa detik, kulihat ke arahnya lagi. Namun, ia masih memandangku yang kini salah tingkah. Aku jadi malu.
Aku mengalihkan pandangan lebih jauh lagi, pura-pura membaca buku yang kebetulan ada di dalam tas, atau iseng memainkan kunci di layar ponsel.
Saat itu aku tahu, ia masih menatapku, barangkali dengan tatapan heran. Kemudian, aku kembali melihatnya, memastikan dugaanku.
Benar saja, ia masih menatapku. Sekilas kulihat ia tersenyum tipis melihat tingkahku.
Lalu mata kita saling bertemu, saling menatap entah berapa saat lamanya.
Aku tersenyum, dan tersipu malu.
Ia tersenyum kembali, kali ini bukan senyum karena melihat tingkahku yang malu-malu. Ia tersenyum, seolah ia sudah tahu semuanya, bahwa detik itu, aku telah mencintainya.
Jumat, 17 Juni 2016
Rindu
Air mata memenuhi jantungmu hingga sesak. Namun setetespun enggan jatuh di matamu.
Aku mengerti, barangkali semuanya terlalu dalam untuk ditangisi sendirian.
Jika kesedihan itu telah membeku, mari kita hangatkan, kasihku.
Aku yakin segala yang beku akan mencair, entah menjadi air mata atau deretan kata. Dan segala yang pecah akan kembali utuh, asalkan kau ada disini, dipelukanku.
17.6.16
Selasa, 17 Mei 2016
Diri Sendiri
Tak ada lagi kesunyian, namun tak lekas kumembenci malam, atau pagi yang teramat enggan untuk bangun. Kenapa selalu ada yang mesti diselami, jika bukan mereka, maka itu adalah dia, atau sebaliknya. Aku tidak lelah, aku hanya rindu bercengkrama dengan diriku sendiri.
Jumat, 22 April 2016
Tentang Pulang
Mungkin kau sudah lelah
Berjalan ke segala arah
Dari keluh yang jauh
Dari sesal yang kekal
Sayang, seorang perempuan
Menunggumu pulang
Ke rumah yang lekang
Sepi Menanti [CURHAT]
Kadang suka lupa tadi malam aku tidur atau hanya termenung?
Yang aku ingat, setiap mau tidur selalu berharap ketika aku bangun ada seseorang di sampingku sedang membaca buku atau menulis sesuatu, seseorang yang membelai rambutku, memberi pelukan.
Setidaknya seseorang yang tidak pernah membiarkanku sendirian, meski hanya dalam sebuah pesan singkat.
Karena sebenarnya aku tidak ingin sendirian.
Tapi ketika kudapati bahwa di kamar ini hanya ada aku, handphone, dan kamar yang sunyi, rasanya aku ingin kembali tidur saja, dan tidak pernah bangun lagi.
Sebab kenyataan selalu meninggalkanku.
Aku merasa tak punya siapa-siapa. Dari sekian triliyun juta jiwa di dunia, dari sekian ratus juta jiwa di indonesia, atau dari sepuluh orang di sekitarku, adakah satu orang saja yang memahamiku? Memahami isi kepalaku?
Rabu, 20 April 2016
Aku Ingin Menulis Puisi [CURHAT]
Jangan memintaku untuk menjadi orang lain.
Aku suka puisi, dan tidak akan pernah berhenti menulis puisi.
Jika bukan puisi, lalu kau ingin aku menulis apa?
"hujan nih, hujannya deras banget, alhamdulillah hujan, dll".
Tapi aku tidak mau, aku akan menulis bahwa "hujan adalah air mata yang jatuh ketika rindu", atau "memandang hujan seperti berkaca pd kenangan".
Orang2 bisa menulis
"sepi nih ga ada temen, sepi di rmh ga ada siapa2, sepi stlh ditinggal pacar, dll"
TIDAK, aku tidak akan pernah menulis yg seperti itu, aku akan menulis "kesepian yang ganjil, mungkin kau harus disini menggenapkan semuanya", atau seperti kata penyair WS. Rendra, "Sepi menjadi kaca".
Selasa, 15 Maret 2016
Sakura
Sakura
Sapardi Djoko Damono
Ketika hari tiba dan mengambil segala yang kau yakini milikmu, kau memang tak merasa perlu tahu bahwa aku bukan bagianmu
Bahwa akhirnya semua itu hanya merupakan deretan huruf panjang yang tidak mungkin tertangkap dalam buku-buku tebal yang sering berserakan di kamarmu
Kau bukan pangeran yang dipaksa mencintai seorang perempuan dengan sebilah keris
Bukan pangeran yang kemudian tertelungkup di hadapan Angreni
Dan kita adalah sakura yang gugur sebelum musim selesai, tak terlacak pula
SDD


