Jumat, 20 Desember 2013

DUA EPISODE

Diposting oleh Catatan Angin di 02.59 0 komentar
I
ini senja yang sendu, sayang 
sejak kau pergi, aku tahu
kau takkan pernah pulang
ya, kau tak harus pulang,
untuk sebuah kepergian yang lain


II
lalu bintang-bintang yang berpendaran di matamu
aku melihatnya sebagai rindu paling kuyu
dan malam adalah suara
yang menenggelamkanku pada
cinta paling sunyi
aku kehilangan senyum, aku kehilangan kata. 

Pulanglah

Desember 2013

Kamis, 12 Desember 2013

MUARA

Diposting oleh Catatan Angin di 06.24 0 komentar
Dari separuh perjalanan rindu
Sepi merambat ke hulu paling biru
Aku hanya ingin kau mendekat padaku
Seperti sungai yang mencari muara
Akulah muara bagi sungai hatimu

Maka, perkenankan aku untuk terus bersamamu
Saat hatiku terus menyeru namamu
Dan mencari-cari, dimana hatimu
Biar kusimpan kembali luka-luka itu
Sebab telah kau pasung hatiku
Bersama cinta yang tak mungkin kupertaruhkan

Desember 2013

Selasa, 10 Desember 2013

CERPEN - PERPISAHAN

Diposting oleh Catatan Angin di 01.49 0 komentar


PERPISAHAN
Oleh : Royhanatul Fauziah

Setiap kali aku melewati dermaga itu, aku selalu teringat pada wajahmu yang selalu berpeluh, juga pada bau matahari yang menempel di tubuhmu, atau pada rambut panjangmu yang tergerai, tersibak angin selatan.

Di dermaga itu kau meninggalkanku dengan senyum paling pasi. Kau begitu lucu ketika tersenyum, bahkan ketika menangispun wajahmu selalu menyisakan kelucuan. Wajahmu, semburat bulan purnama. Matamu sayu, samar-samar kulihat air mata 
menetes di pipimu yang bulat.

Kenapa kau menangisi kepergianmu sendiri? Harusnya aku yang lebih pantas menangis. Menangisimu, karena aku yang kehilanganmu.

Tapi aku masih mampu menahan gerimis di mataku. Aku tak mengerti, apalah arti air mata jika kepergian menjadi sebuah pilihan yang tak mampu kau halangi, meski dengan setumpuk kenangan manis, kau tetap tak bisa menahannya tinggal meski dengan sejuta alasan. Jika dia ingin pergi, maka dia akan pergi. Dan kau hanya bisa terdiam, membiarkannya pergi sambil tak tahu harus berbuat apa. 

Haruskah kulambaikan tangan untuk sebuah kepergian? Lambaian tangan adalah ucapan selamat tinggal dengan bahasa yang lain. Jangan, jangan ucapkan selamat tinggal. Jangan lambaikan tanganmu karena aku tak sanggup membalasnya.
Cahaya matahari senja memantul ke arahku lewat riak air di laut. Cahaya keemasan itu membangunkanku dari lamunan masa lalu.

Ah, dermaga itu kini hanya tinggap kapal-kapal yang sepi. Sepi? Itulah yang kini kurasakan. Adakah kau merasakan kesepian yang sama disana? Atau kau sedang menikmati senja dengan kekasihmu yang baru? Entahlah, yang pasti saat ini aku menikmati kesepianku.

Sejak enam tahun kepergianmu, laut seperti hamparan buku harian yang kosong. Apa yang hendak kutulis, jika segala kalimat-kalimat indah ada padamu dan kau membawa pergi kalimat-kalimat indah itu. Laut hanya menyisakan kebiruan, kebiruan yang selalu mengingatkanku pada biru matamu.

Aku tak pernah tahu alasan kepergianmu. Mungkin kau ingin memperbaiki hidupmu dengan bekerja di sebrang sana, mungkin kau bosan berada di desa ini bersamaku, atau mungkin kau pergi karena diusir para tetangga karena kau terlalu cantik untuk seorang gadis desa. Ah, mengapa kau merahasiakan alasan kepergianmu?
Aku membutuhkan alasan untuk sebuah kepergian, tetapi kau tak pernah mengucapkannya. Apakah kau akan pergi dengan laki-laki lain? Aku tak pernah tahu.

“Kuharap kau mau menerima kepergianku meninggalkan desa ini”  Itulah kalimat terakhir yang kau ucapkan ketika kita duduk berdua di bawah pohon kelapa yang sudah kering. Kau mengucapkannya sembari tersenyum. Aku tahu, itu bukan senyummu yang paling tulus.

Aku tak berani bertanya “kenapa”, karena matamu terlanjur berkaca-kaca. Aku takut membuatmu menangis.  Dan aku tak berani menatap matamu lebih dalam.
Aku mengantarmu ke dermaga itu. Dermaga adalah tempat dimana segala pertemuan dan perpisahan bisa terjadi. Seperti perpisahan kita. Kubiarkan badan kapal mengayunkan tubuhmu hingga jauh dan menjauh. Aku masih berdiri memandangi kapal yang kau tumpangi. Tubuhmu perlahan menghilang dibalik cahaya senja, menjadi sebuah siluet. Dan aku yakin saat itu kita telah berpisah, pada senja yang sendu.

Aku tak menangis waktu itu, tapi entahlah. Yang pasti saat itu aku merasa sangat sedih. Atau karena kesedihanku, aku tak menyadari kalau aku sedang menangis.
Tetapi, setiap kali aku merindukanmu, aku selalu menyadari bahwa kristal-kristal sering berjatuhan dari mataku, membasahi bantal tidurku yang lapuk, membasahi mimpi burukku pada malam-malam yang sunyi. Membuat mataku sembab di pagi hari dan ditertawakan embun dini hari karena aku laki-laki. Apakah laki-laki tak boleh menangisi kerinduan yang tak pernah sampai? Apakah laki-laki tak boleh menangisi kenangan? Apakah kau sedang menangis, seperti saat kau menangis pada senja yang sendu?

Pernah suatu hari kau kembali dengan gincu di bibirmu, juga baju yang berwarna merah terang, kau kembali dengan rambut sebahu, aku tak peduli kemana rambutmu yang dulu sepinggang itu,. Aku hanya peduli padamu yang waktu itu telah kembali. Tapi kau begitu lain, seperti bukan kau. Kau yang kukenal dulu begitu sangat sederhana dan anggun.

Kau masih berdiri di depan perahu yang tadi kau tumpangi. Aku hanya menatapmu sambil berdiri di lidah pantai. Kaupun menatapku dengan tatapan heran. Aku terdiam, barangkali kau sudah tak mengenaliku.

Tiba-tiba dari belakang seorang lelaki menuntun seorang anak perempuan berusia lima tahun dan mereka memanggilmu “Mama”. Sambil tertawa riang, kau menyambutnya dengan pelukan hangat. Pelukan yang selalu kurindukan selama enam tahun perpisahan kita. Kau telah kembali dengan cinta yang lain.

Dulu kau meninggalkanku untuk sebuah perpisahan. Dan sekarang mengapa kau harus kembali, untuk sebuah perpisahan yang lebih menyakitkan?
Seperti yang pernah kukatakan, Dermaga adalah tempat dimana segala pertemuan dan perpisahan bisa terjadi. Seperti pertemuan dan perpisahan kita.

Senin, 02 Desember 2013

MATAHARI DALAM DIRI

Diposting oleh Catatan Angin di 02.56 0 komentar
pagi, bukankah matahari tak pernah ingkar janji?
tetapi, 

mengapa aku selalu merasa dikhianati, 
oleh matahari yg ada dalam diriku sendiri

desember 2013

Senin, 28 Oktober 2013

AH!

Diposting oleh Catatan Angin di 03.13 0 komentar
ah, kenangan itu. 
seperti baru saja berkelebat dalam benak
menggertak seluruh kesepianku malam ini hingga koyak
menjadi rindu yang entah, mungkin takkan pernah sampai di nisanmu
sungguh, sunyi ini hanya milikku. dan kau? 


Oktober 2013

Minggu, 20 Oktober 2013

MENGENANG SENDIRI

Diposting oleh Catatan Angin di 03.15 0 komentar
aku tahu kenangan itu mampu berjalan sendiri, 
meski harus pincang dalam genangan lukanya
bukankah kau tak pernah menyimpan setitik kenanganpun, hy?
selain aku yang mengenang semuanya seorang diri


Oktober 2013

Rabu, 16 Oktober 2013

SENJAKU, SENJA YANG SENDU

Diposting oleh Catatan Angin di 03.19 0 komentar
senjaku tiba-tiba sendu, sayang
seperti menata sendiri setumpuk kenangan yang tertinggal di rimbun mawar
dan kau, masihkah kau menjadi pemeluk angin?
yang selalu gemetar karena tak mau mendengar dercit pohon bambu
rindu, barangkali itu yang kini membegal di ulu hati
di ulu hati


Oktober 2013

Sabtu, 12 Oktober 2013

TERJAGA

Diposting oleh Catatan Angin di 03.17 0 komentar
terjaga di sepertiga malam. mungkinkah ada rindu yang membegal,
yang memantulkan bayangan wajahmu saat kenangan menjadi teman
pada malam-malam yang sunyi di remang cahaya lampu kota?
tapi bukankah kita tak pernah punya kenangan, katamu
selain luka yang selalu menjadi mimpi buruk dalam setiap tidur kita


Oktober 2013

Rabu, 02 Oktober 2013

KAMU

Diposting oleh Catatan Angin di 03.18 0 komentar
wajahmu, terbit di pagi yang rindu
membias pada cahaya keemasan di suatu senja yang pilu
sampai pergi dibalik mega, 

hilang karena bersembunyi dari luka dan kenangan masa lalu, kamu

Oktober 2013

Selasa, 01 Oktober 2013

HAI, PENYAIR

Diposting oleh Catatan Angin di 03.08 0 komentar
hai penyair!

di matamu yang setenang danau

aku seperti melihat teratai yang melambai ke arahku

tapi aku tak cukup berani untuk memasukinya

karena matamu terlalu dalam

dan aku takut tenggelam..



hai penyair!

di matamu yang setenang danau

aku pernah melihat gelombang kecil

yang disebabkan kecipak ikan-ikan yang mengintip ke udara

tapi aku tak cukup berani untuk membendungnya

karena matamu terlalu luas

dan aku takut kehabisan napas.


Oktober, 2013
 

CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review