Minggu, 02 Maret 2014

YANG INGIN MENJADI PUISI

Diposting oleh Catatan Angin di 05.36 2 komentar
YANG INGIN MENJADI PUISI


yang sempat menjadi kalimat indah itu adalah namamu
tetapi belum sempat pula aku menyusunnya menjadi lembar-lembar cerita
yang mungkin kan kita baca suatu hari nanti

namamu kembali,
pada saat kalimat itu buntu
dan merasa bahwa kalimat itu tak pernah tahu
kapan ia kan menjumpai titik akhir

katamu, bukankah dalam setiap pertemuan itu
selalu ada tanda baca yang membuat kita tak henti bertanya,
kemana takdir kan membawa kita?

Sabtu, 01 Maret 2014

SAJAK SATU MARET

Diposting oleh Catatan Angin di 05.34 0 komentar
SAJAK SATU MARET


Zi, tahun ke tahun adalah sebuah kepergian usia
Yang tak harus kau hitung seberapa banyak luka
Yang terpendam dari bulan ke bulannya
Jangan bertanya lagi perihal kesepian yang enggan pergi itu
Sebab masih banyak yang harus kau maknai dalam kepergian usiamu kini
Itulah doa-doa yang selalu kau rapal setiap dini hari
Doa-doa yang kerap tengadah tanpa ibadah
Bertanyalah pada usiamu kini, akankah kau menjadi makna, Zi?

010314

Minggu, 23 Februari 2014

MATAHARI YANG TERBIT DI MATAMU

Diposting oleh Catatan Angin di 10.33 1 komentar

MATAHARI YANG TERBIT DI MATAMU
: H.R

Di laut itu, ada yang tak kunjung kutemui pagi tadi
Ialah cahaya keemasan yang membias ke permukaan riak gelombang
Entah karena matahari yang terlambat terbit, atau mungkin ia tak pernah mau terbit?
Barangkali, ada yang telah mencuri keindahannya pagi tadi

Matamu

Bagiku, segala keindahan pagi telah berpindah ke matamu
Bahkan ketika kau mengelak, keindahan akan tetap menjadi keindahan sekalipun itu berpindah ke sudut matamu yang paling dalam

Katamu, bukankah terlalu rakus jika keindahan hanya kita lahap dengan sudut mata yang satu
Kau benar, keindahan akan menjadi lebih indah jika kita lihat berdua dengan sudut mata yang menyatu

Dan, seandainya setiap keindahan itu memiliki nama, maka ingin aku menamainya

Cinta.

“Keindahan menjamah setiap insan dengan beragam pandangan, dan hanya ada satu keindahan yang dipandang seragam,
Itulah keindahan yang dilihat oleh dua insan dengan sudut pandang cinta yang satu”

Maka, biarkan cinta yang satu itu menyatukan dua insan dalam keindahannya.

Akankah keindahan itu menjadi milik kita?

240214

Rabu, 15 Januari 2014

KEPADA SESEORANG

Diposting oleh Catatan Angin di 06.17 0 komentar
cerita seorang perempuan yang menangis dari satu musim ke musim yang lain
katanya, sepi itu bukan milik lelakinya dulu, sepi itu milik angin yang kehilangan
arah
waktu kini selalu menjadi bayang-bayang, apakah kau akan kembali?
pada satu musim dimana hujan selalu menjadi alasan untuk setiap pengingkaran
atau pada hati yang telah dikeringkan musim kemarau
jangan bertanya padaku perihal cinta
karena aku telah kehilangan arti
musim-musim telah pergi, musim semi sudah tiada
tinggal satu musim saja yang tersisa disini; sepi.


Selasa, 31 Desember 2013

MALAM PERGANTIAN TAHUN

Diposting oleh Catatan Angin di 02.52 0 komentar
Terompet dan kembang api akan meramaikan
malam, 

semoga mereka meramaikan hatimu
juga. 

Meramaikan hati kita. 
Mungkinkah? 
Ah.

Desember

Jumat, 20 Desember 2013

DUA EPISODE

Diposting oleh Catatan Angin di 02.59 0 komentar
I
ini senja yang sendu, sayang 
sejak kau pergi, aku tahu
kau takkan pernah pulang
ya, kau tak harus pulang,
untuk sebuah kepergian yang lain


II
lalu bintang-bintang yang berpendaran di matamu
aku melihatnya sebagai rindu paling kuyu
dan malam adalah suara
yang menenggelamkanku pada
cinta paling sunyi
aku kehilangan senyum, aku kehilangan kata. 

Pulanglah

Desember 2013

Kamis, 12 Desember 2013

MUARA

Diposting oleh Catatan Angin di 06.24 0 komentar
Dari separuh perjalanan rindu
Sepi merambat ke hulu paling biru
Aku hanya ingin kau mendekat padaku
Seperti sungai yang mencari muara
Akulah muara bagi sungai hatimu

Maka, perkenankan aku untuk terus bersamamu
Saat hatiku terus menyeru namamu
Dan mencari-cari, dimana hatimu
Biar kusimpan kembali luka-luka itu
Sebab telah kau pasung hatiku
Bersama cinta yang tak mungkin kupertaruhkan

Desember 2013

Selasa, 10 Desember 2013

CERPEN - PERPISAHAN

Diposting oleh Catatan Angin di 01.49 0 komentar


PERPISAHAN
Oleh : Royhanatul Fauziah

Setiap kali aku melewati dermaga itu, aku selalu teringat pada wajahmu yang selalu berpeluh, juga pada bau matahari yang menempel di tubuhmu, atau pada rambut panjangmu yang tergerai, tersibak angin selatan.

Di dermaga itu kau meninggalkanku dengan senyum paling pasi. Kau begitu lucu ketika tersenyum, bahkan ketika menangispun wajahmu selalu menyisakan kelucuan. Wajahmu, semburat bulan purnama. Matamu sayu, samar-samar kulihat air mata 
menetes di pipimu yang bulat.

Kenapa kau menangisi kepergianmu sendiri? Harusnya aku yang lebih pantas menangis. Menangisimu, karena aku yang kehilanganmu.

Tapi aku masih mampu menahan gerimis di mataku. Aku tak mengerti, apalah arti air mata jika kepergian menjadi sebuah pilihan yang tak mampu kau halangi, meski dengan setumpuk kenangan manis, kau tetap tak bisa menahannya tinggal meski dengan sejuta alasan. Jika dia ingin pergi, maka dia akan pergi. Dan kau hanya bisa terdiam, membiarkannya pergi sambil tak tahu harus berbuat apa. 

Haruskah kulambaikan tangan untuk sebuah kepergian? Lambaian tangan adalah ucapan selamat tinggal dengan bahasa yang lain. Jangan, jangan ucapkan selamat tinggal. Jangan lambaikan tanganmu karena aku tak sanggup membalasnya.
Cahaya matahari senja memantul ke arahku lewat riak air di laut. Cahaya keemasan itu membangunkanku dari lamunan masa lalu.

Ah, dermaga itu kini hanya tinggap kapal-kapal yang sepi. Sepi? Itulah yang kini kurasakan. Adakah kau merasakan kesepian yang sama disana? Atau kau sedang menikmati senja dengan kekasihmu yang baru? Entahlah, yang pasti saat ini aku menikmati kesepianku.

Sejak enam tahun kepergianmu, laut seperti hamparan buku harian yang kosong. Apa yang hendak kutulis, jika segala kalimat-kalimat indah ada padamu dan kau membawa pergi kalimat-kalimat indah itu. Laut hanya menyisakan kebiruan, kebiruan yang selalu mengingatkanku pada biru matamu.

Aku tak pernah tahu alasan kepergianmu. Mungkin kau ingin memperbaiki hidupmu dengan bekerja di sebrang sana, mungkin kau bosan berada di desa ini bersamaku, atau mungkin kau pergi karena diusir para tetangga karena kau terlalu cantik untuk seorang gadis desa. Ah, mengapa kau merahasiakan alasan kepergianmu?
Aku membutuhkan alasan untuk sebuah kepergian, tetapi kau tak pernah mengucapkannya. Apakah kau akan pergi dengan laki-laki lain? Aku tak pernah tahu.

“Kuharap kau mau menerima kepergianku meninggalkan desa ini”  Itulah kalimat terakhir yang kau ucapkan ketika kita duduk berdua di bawah pohon kelapa yang sudah kering. Kau mengucapkannya sembari tersenyum. Aku tahu, itu bukan senyummu yang paling tulus.

Aku tak berani bertanya “kenapa”, karena matamu terlanjur berkaca-kaca. Aku takut membuatmu menangis.  Dan aku tak berani menatap matamu lebih dalam.
Aku mengantarmu ke dermaga itu. Dermaga adalah tempat dimana segala pertemuan dan perpisahan bisa terjadi. Seperti perpisahan kita. Kubiarkan badan kapal mengayunkan tubuhmu hingga jauh dan menjauh. Aku masih berdiri memandangi kapal yang kau tumpangi. Tubuhmu perlahan menghilang dibalik cahaya senja, menjadi sebuah siluet. Dan aku yakin saat itu kita telah berpisah, pada senja yang sendu.

Aku tak menangis waktu itu, tapi entahlah. Yang pasti saat itu aku merasa sangat sedih. Atau karena kesedihanku, aku tak menyadari kalau aku sedang menangis.
Tetapi, setiap kali aku merindukanmu, aku selalu menyadari bahwa kristal-kristal sering berjatuhan dari mataku, membasahi bantal tidurku yang lapuk, membasahi mimpi burukku pada malam-malam yang sunyi. Membuat mataku sembab di pagi hari dan ditertawakan embun dini hari karena aku laki-laki. Apakah laki-laki tak boleh menangisi kerinduan yang tak pernah sampai? Apakah laki-laki tak boleh menangisi kenangan? Apakah kau sedang menangis, seperti saat kau menangis pada senja yang sendu?

Pernah suatu hari kau kembali dengan gincu di bibirmu, juga baju yang berwarna merah terang, kau kembali dengan rambut sebahu, aku tak peduli kemana rambutmu yang dulu sepinggang itu,. Aku hanya peduli padamu yang waktu itu telah kembali. Tapi kau begitu lain, seperti bukan kau. Kau yang kukenal dulu begitu sangat sederhana dan anggun.

Kau masih berdiri di depan perahu yang tadi kau tumpangi. Aku hanya menatapmu sambil berdiri di lidah pantai. Kaupun menatapku dengan tatapan heran. Aku terdiam, barangkali kau sudah tak mengenaliku.

Tiba-tiba dari belakang seorang lelaki menuntun seorang anak perempuan berusia lima tahun dan mereka memanggilmu “Mama”. Sambil tertawa riang, kau menyambutnya dengan pelukan hangat. Pelukan yang selalu kurindukan selama enam tahun perpisahan kita. Kau telah kembali dengan cinta yang lain.

Dulu kau meninggalkanku untuk sebuah perpisahan. Dan sekarang mengapa kau harus kembali, untuk sebuah perpisahan yang lebih menyakitkan?
Seperti yang pernah kukatakan, Dermaga adalah tempat dimana segala pertemuan dan perpisahan bisa terjadi. Seperti pertemuan dan perpisahan kita.

Senin, 02 Desember 2013

MATAHARI DALAM DIRI

Diposting oleh Catatan Angin di 02.56 0 komentar
pagi, bukankah matahari tak pernah ingkar janji?
tetapi, 

mengapa aku selalu merasa dikhianati, 
oleh matahari yg ada dalam diriku sendiri

desember 2013
 

CATATAN ANGIN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review